Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Formal Makin Tidak Serius, Bagaimana Nasib Indonesia?

Hiruk pikuk perjalanan pendidikan di Indonesia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, baik secara umum maupun bagi pemerhati pendidikan.

Namun yang patut menjadi sorotan saat ini adalah bagaimana pengawasan pihak yang berwenang terhadap pendidikan formal yang sering kita sebut sekolah? 

Apakah sistem pembelajaran di setiap sekolah sudah dapat dijamin kualitasnya? Atau sekolah kini hanya sebagai kegiatan formalitas belaka? 

Mari kita tengok keadaan sekolah di sekitar kita khususnya daerah pedesaan untuk memastikan keadaan nyatanya.

Ditabrak musibah pandemi, pendidikan kian tidak jelas arahnya. Pendidikan yang dulunya adalah kegiatan mentransfer ilmu dari ahlinya kepada seorang peserta didik, kini secara tiba-tiba berubah menjadi kegiatan mengetik perintah “Kerjakan!”. 

Minimnya kesadaran akan hakikat pendidikan pun kini menjadi momok yang kian menyayat hati. Banyak masyarakat yang masih berpikir bahwa garis besar dari pendidikan adalah “tamat sekolah”, “mendapat ijazah”, dan “mudah cari kerja setelah lulus”. Hal ini tentu berpengaruh terhadap keseriusan pelaku pendidikan juga tentunya pada kualitas sumber daya manusia (SDM) 10 sampai 20 tahun mendatang jika tidak segera dibenahi.

Bayangkan saja, warung-warung internet kini dipenuhi remaja, bahkan anak-anak yang main game online pada jam-jam ideal belajar sampai malam hari. Alasan yang muncul adalah karena sekolah / kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara daring. Jadi warung internet menjadi tempat bagus untuk mendapatkan akses jaringan internet yang bagus. 

Alasan lain, di warung internet mereka dapat berbagi keluh kesah belajar, sharing tugas, dan menghibur diri sebab kepenatan karena terlalu lama berdiam diri di rumah. Namun, yang terjadi, alasan-alasan positif itu hanya 20% kebenaran pada realitasnya.

Esensi pendidikan hilang saat guru hanya menggunakan sistem penugasan. Yang terjadi yakni, guru memberikan serangkaian tugas di pagi hari, memberikan link vidio di Youtube (bila guru sedikit menjadi lebih kreatif), guru memberikan deadline yang cukup panjang yaitu jam di malam harinya. 

Baca Juga: Bersiap Menghadapi DIGITAL DISRUPTION era 5G

                   Agar Masa Kuliahmu Berjalan Lancar

Dan yang dilakukan oleh peserta didik adalah mengabaikan buku atau vidio pembelajaran dan mengedepankan kekuatan Google sebagai sumber referensi saat mengerjakan tugas. Sedangkan peserta didik belum dibekali dengan kewaspadaan terhadap artikel-artikel yang belum tentu dapat dijamin kebenarannya. Dan yang diharapkan oleh peserta didik adalah tugas cepat tuntas agar segera bisa main game. Sedang yang orang tua tau “Anak saya sedang belajar secara daring di warung internet”.

Masalah di lain sisi adalah orang tua yang tidak paham atau tidak tau menahu kegiatan pendidikan sekolah anak-anaknya. Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang rendah menyebabkan orang tua lepas tangan terhadap pengawasan kegiatan belajar peserta didik selama pembelajaran daring. Mereka kehilangan kesempatan sebagai teman belajar anak karena kurangnya pengetahuan. 

Fenomena yang ada, para orang tua dominan marah-marah saat anak-anak mengeluhkan tugasnya. Inilah salah satu, mengapa anak-anak lari ke warung internet dan menghibur diri.

Menyikapi berbagai permasalahan terbaru ini, sebaiknya guru menjadi lebih bijak.  Guru diharap bisa menyajikan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif dan tentunya menarik agar harmoni pendidikan dapat kembali dirasakan meski pembelajaran masih dilaksanakan secara daring. 

Di era serba digital seperti sekarang ini sudah banyak platform-platform pembelajaran yang menarik dan dapat digunakan secara akif oleh guru dan peserta didik. 

Dengan menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi lebih intensif, kualitas pendidikan juga akan meningkat. Hal ini kini benar-benar harus dikaji ulang, karena mirisnya, sekarang ini banyak anak-anak berpendidikan, tapi kebanyakan dari mereka tidak benar-benar terdidik.