Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Secara evolusi, banyaknya “diri” dalam benak kita ini menguntungkan. Bagaimana bisa?

Howard Hughes adalah seorang pengusaha milyarder, aktor, filantropis, sekaligus pilot yang lahir di AS tahun 1905. Hughes adalah tokoh publik dengan karakter yang penuh paradoks. Ia membenci kontak sosial, tapi di sepanjang hidupnya, ada ratusan wanita ditidurinya. Hughes memiliki ketakutan berlebihan akan kematian akibat penyakit infeksi, sehingga ia cendernug menunjukkan perilaku obsesif-kompulsif, namun di sepanjang hidupnya ia sudah beberapa kali terlibat dalam aksi-aksi berisiko tinggi seperti memecahkan rekor menerbangkan pesawat tercepat dan terjauh. 

Di akhir hidupnya, Hughes memiliki kekayaan setara dua milyar dolas AS. Namun, ia meninggal dalam kondisi fisik persis gelandangan yang terisolir di rumah megahnya. Rambutnya gondrong tidak terawat, jenggot dan kumisnya tebal, kuku-kuku jarinya panjang dengan kotoran yang menempel di bawahnya. Benar-benar kontras dengan sosok Hughes yang dikenal orang.


Aku rasa Hughes bisa menjadi gambaran betapa kontras perilaku orang yang tampak dari luar dengan apa yang tidak ditampilkannya ke hadapan publik. Banyak tokoh-tokoh publik mulai dari seorang Presiden negara adidaya sampai ke artis sinetron picisan, ternyata memiliki sisi gelap dirinya yang sangat jarang terekspos publik. Hal-hal seperti ini menjadi target para wartawan majalah aatu berita gosip seperti lalat mengerubuti bangkai. 

Apakah sisi gelap yang sama sekali berbeda itu hanya didapati pada tokoh publik? Ada yang mengatakan bahwa sisi gelap diri mereka menunjukkan siapa sebenarnya diri mereka, bukan diri yang tampil di depan publik sesuai dengan tuntutan norma masyarakat. Lalu mengapa mereka bisa dengan mudah berganti-ganti karakter semudah orang berganti bahasa ketika berbicara dengan orang asing? 

Apakah benar hanya ada satu diri dalam badan seseorang yang membawa seluruh karakter orang itu? Sebenarnya apa itu yang disebut dengan diri? Ketika Anda melihat ke arah cermin, apa yang ada di dalam benak Anda tentang siapa diri Anda? Apakah kepala Anda itu? Wajah Anda? Keseluruhan badan Anda? 

Rata-rata orang akan berpikir bahwa apa yang disebut dengan diri merujuk pada entitas individu yang ada di dalam jasad mereka. Diri mereka bukan jasad itu sendiri. Bagi mereka "diri" ibarat mutiara yang ada di dalam cangkang kerang. Hanya ada satu mutiara yang utuh di dalam satu cangkang itu. Konsep sepeti ini kita kenal dengan istilah “Ego Theory”.

Bertolakbelakang dengan Ego Theory, ada teori lain yang menyebutkan bahwa sebenarnya ada banyak diri dalam tubuh jasamaniah kita. Seorang filsuf Skotlandia pada abad ke-18 pernah berkata bahwa apa yang kita sebut dengan “diri” sebenarnya hanya sekumpulan sensasi inderawi, persepsi, dan pikiran yang saling tumpang tindih dalam benak kita.

Tidak ada satu entitas tunggal benak kita yang bisa kita sebut mewakili diri kita seutuhnya. Berbagai sensasi, pikiran, dan persepsi itu ibarat setumpuk jerami berbagai ukuran yang terikat menjadi satu. Dari analogi seperti itulah teori ini mendapatkan julukannya, “Bundles Theory of Self”. 

Entah disadari atau tidak, sebenarnya David Hume bukan orang pertama yang mengatakan demikian. Lebih dari dua ribu tahun sebelum Hume lahir, ada orang dari India yang mengatakan bahwa konsep diri sebagai entitas tunggal itu hanyalah ilusi.

Siddhartha Gautama, atau dikenal dengan istilah Sang Buddha pernah menyebutkan konsep ketiadaan diri yang tunggal ini dalam prinsip ajaran Buddha yang dikenal dengan istilah “Anatta”. Masing-masing pikiran, persepsi, dan sensasi inderawi kita mendasari karakter dan perilaku kita. Ada karakter yang sifatnya naluriah impulsif, ada karakter yang artistik, ada karakter yang kritis-rasional, ada karakter yang simpatik, dan lain sebagainya.

Masing-masing karakter itu muncul dari berbagai bagian otak yang berbeda seperti buih-buih yang terbentuk dalam bejana berisi air mendidih.

Lalu mana yang benar menurut hasil riset neurosains modern?

Hasil riset di bidang neurosains mutakhir tampaknya lebih condong membuktikan bahwa entitas yang ada di dalam benak kita ada banyak. Tidak ada entitas tunggal yang sepenuhnya berkuasa dan terekspresi dalam bentuk perilaku yang konsisten. Otak, sebagai tempat terbentuknya pikiran, bukan bekerja seperti sebuah unit komputer tunggal. Cara kerja otak lebih mirip sebuah perusahaan dengan banyak divisi di dalamnya.

Memang secara keseluruhan, perusahaan bekerja untuk meraih satu tujuan bersama, tapi masing-masing divisi memiliki tugasnya sendiri-sendiri dan punya kepentingan sendiri-sendiri pula. Antar divisi yang berbeda terdapat aliran komunikasi dua arah dan juga terdapat hirarki di dalamnya. Semua informasi yang dimiliki masing-masing divisi akan jatuh ke tangan suatu entitas eksekutif yang berlaku seperti CEO (Chief Executive Officer) sebagai pengambil keputusan final. Semua divisi saling berebut mencuri perhatian sang CEO dan ada kalanya sang CEO membebaskan divisi di bawahnya untuk mengambil alih dalam kondisi darurat. 

Seberapa sering Anda merasa lepas kendali saat emosi membuncah? Seberapa sering Anda ingin melakukan suatu hal tapi perhatian Anda teralihkan kepada hal-hal lain? Seberapa sering Anda ingin berolahraga tapi badan terasa mager? Ada banyak bagian dari otak Anda berebut perhatian fungsi eksekutif otak kita yang ada di dalam bagian yang disebut Korteks Prefrontal. Letaknya paling depan, tepat di balik jidat kita. 

Bagi seorang pemerkosa, divisi otak kadalnya yang bertujuan merebut akses reproduksi sebanyak-banyaknya tiba-tiba mengambil alih kendali. Tak menggubris eksistensi divisi lain yang bekerja memberikan informasi tentang nilai-nilai moral. 

Secara evolusi, banyaknya “diri” dalam benak kita ini menguntungkan. Bagaimana bisa?