Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ritual (Otak Anda sedang melakukan muslihatnya)

Mengapa manusia demen sekali melakukan ritual? Mulai dari ritual pengusiran setan, ritual persembahan kepada dewa-dewi, sampai ritual memenangkan pemilu. Presiden Obama, misalnya, pernah mengatakan ia pun melakukan ritual tertentu saat di pilpres di AS. Ia selalu bermain basket di hari pilpres dihelat.

Ia mungkin tahu bahwa tidak ada hubungan antara bermain basket dengan kemenangannya saat pilpres, toh dia tetap melakukannya. Mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, selalu memakai sepasang sepatu yang sama saat memberikan laporan pertanggungjawabannya di depan parlemen. Ia tahu tidak ada kaitannya antara sepatu dengan hasil laporannya, tapi toh ia tetap memakainya. 

Begitu juga dengan tokoh-tokoh olahraga dunia yang melakukan ritual-ritual tertentu sesaat sebelum bertanding. David Beckham melakukan ritual latihan tertentu sebelum pertandingan sepak bola, dan membenci angka ganjil. Ia selalu membuang satu kaleng minuman bersoda kalau jumlahnya di dalam kulkas ada ganjil.

Majalah People pernah memaparkan ritual-ritual yang dilakukan belasan atlet olimpiade berbeda. Ada yang memakai celana dalam berwarna tertentu supaya menang, ada yang membawa boneka dinosaurus ke setiap pertandingan, sampai ada yang menonton film Kill Bill dan Membaca alkitab di malam hari sebelum pertandingan.


Mengapa manusia melakukan ritual-ritual tak masuk akal semacam itu? Baik ritual berbau reliji, kultural, maupun ritual non-relijius seperti yang dilakukan Obama dan Tony Blair.

Terdapat studi menaik terkait ritual-ritual ini. Seorang ilmuwan psikologi dari Jepang, Koichi Ono, pada tahun 1987, pernah melakukan studi ekeperimen menarik tentang perilaku manusia yang satu ini. Ia merekrut dua puluh orang berusia antara 19-24 tahun, lalu mereka dihadapkan pada sebuah mesin yang terdiri dari beberapa lampu dan beberapa tuas.

Mereka diminta menekan tuas dengan urutan tertentu sesuai kehendak mereka sampai lampu menyala dan memberikan nilai. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa nyala lampu terjadi secara acak. Artinya, nilai yang mereka dapatkan tidak ditentukan oleh usaha mereka menemukan urutan menekan tuas yang benar tapi muncul secara acak.

Di akhir penelitian, semua orang, tidak terkecuali memiliki keyakinan sendiri tentang urutan menekan tuas yang benar. Tiga orang di antaranya bahkan memegang teguh keyakinan bahwa urutan menekan tuasnya lah yang paling benar dan berusaha melakukan ritual menekan tuas itu di sepanjang eksperimen meskipun hasilnya tetap inkonsisten. 

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan yang kuat dari pikiran manusia untuk menemukan pola-pola tertentu di alam sekitarnya yang sebenarnya sama sekali acak dan tidak berkaitan. Keacakan, atau “randomness”, adalah sesuatu yang terasa begitu aneh, non-intuitif, bagi otak manusia. Itulah mengapa kita susah sekali menuliskan angka-angka yang acak dan memerlukan bantuan program komputer untuk melakukannya.

Ketidakmampuan otak kita mencerna sesuatu yang acak dan kecenderungannya menemukan pola menjelaskan mengapa kita selalu saja menemukan sosok wajah atau tulisan nama tuhan di berbagai benda-benda mulai dari awan, bentuk percabangan pohon, bentuk aliran sungai, sampai pantat anjing. Fenomena yang kita sebut sebagai pareidolia.

Kerja otak Anda menipu Anda sendiri bahwa Anda sedang melihat sesuatu, padahal sebenarnya tidak ada. Sekadar Anda tahu, kemampuan menemukan sosok wajah itu adalah kemampuan mental bawaan paling awal yang dimiliki otak kita. Lihat saja bagaimana bayi bisa mengenali wajah ibunya beserta mimiknya dan mengapa dari sekian banyak bagian tubuh manusia, bayi hanya fokus ke wajah? Siapa yang mengajari mereka? Tidak ada, itu sudah bawaan biologis.

Kecenderungan otak kita untuk selelu menemukan pola dan kaitan berbagai hal juga cenderung membuat kita jatuh ke dalam kesesatan berlogika yang disebut dengan istilah “post-hoc, ergo propter hoc”. Kesesatan untuk selalu menemukan kaitan hubungan sebab akibat pada dua fenomena hanya karena kedua fenomena itu terjadi berurutan.

Bayangkan saja sesaat setelah Anda memasang colokan charger hape, listrik di rumah Anda mati. Dengan seketika Anda berpikir bahwa matinya listrik di rumah disebabkan oleh korsleting pada charger hape Anda. Apakah benar begitu? Bisa jadi, tapi bisa juga tidak. Kedua hal yang terjadi berurutan, tidak selalu memiliki hubungan sebab akibat.

Apa hubungannya dengan ritual takhayul yang dilakukan manusia?

Ketika hasil akhir dari suatu situasi sangat penting bagi diri kita, misal petandingan olahraga, pemilihan umum, ujian, atau berjudi dengan taruhan yang besar, kita mudah jatuh ke dalam kondisi stres akibat ketidakpastian. Stres akibat ketidakpastian ini memicu pikiran kita secara spontan untuk menemukan kaitan antar berbagai hal berdasarkan memori kita tentang situasi yang sama di masa lalu.

Kaitan semu yang kita temukan mendorong kita melakukan ritual-ritual tertentu demi mendapatkan kembali “sense of control”. Sama seperti para subyek Ono di atas yang mengira mereka bisa mengendalikan nyala lampu berdasarkan ritual menekan tuas yang mereka yakini meski kenyataannya kejadian nyala lampu itu acak. 

Itulah mengapa orang membuang kepala sapi di tengah laut untuk mencegah terjadinya bencana, membakar menyan supaya tokonya laris, menghindari membunuh hewan supaya bayi tidak cacat, menanam tumbal di bawah gedung supaya tidak roboh.

Di kultur China, mereka bahkan punya kitab tentang bagaimana seharusnya menata rumah supaya rejeki lancar dan terhindar dari malapetaka. Mereka sedang berusaha menemukan kaitan antar kejadian-kejadian penting yang berpengaruh terhadap hidupnya dan berusaha mengendalikannya. Ada segudang ritual semacam itu di dalam keyakinan relijius.

Ketika kecenderungan melakukan ritual dalam pikiran seseorang sudah mulai menguasai kehidupan sehari-harinya, maka orang tersebut sudah jatuh ke dalam kondisi gangguan jiwa yang disebut dengan gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder).

ps: foto di bawah adalah foto permukaan Mars. Apa yang Anda temukan? Wajah itu tidak ada di sana. Itu adalah pola acak kombinasi tekstur permukaan planet Mars yang kasar dan arah datangnya cahaya. Otak Anda sedang melakukan muslihatnya.