Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pikiran Anak

Sudah bukan misteri bahwa cara kita mendidik anak sangat menentukan bagaimana performa mereka ketika menghadapi sebuah persoalan dalam hidup. Pada tahun 1998, dua orang pakar psikologi asal AS, Mueller dan Dweck mendesain sebuah studi untuk membuktikan hal itu.

Mueller dan Dweck mengumpulkan sejumlah anak berusia sepuluh tahun. Membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kedua kelompok anak itu diberikan sebuah tes untuk dipecahkan sendiri-sendiri. Mueller dan Dweck sudah memastikan bahwa tingkat kesulitan tes itu rendah, sehingga bisa dipastikan bahwa semua anak pasti akan lolos tes itu.

Setelah semua anak lolos tes, anak dari kelompok pertama diberi tahun bahwa kemampuan mereka memecahkan tes itu disebabkan oleh kecerdasan alamiah mereka, sedangkan anak dari kelompok kedua diberi tahu bahwa kemampuan mereka memecahkan tes disebabkan oleh usaha mereka, siapapun yang bisa berusaha dengan ulet pasti akan bisa memecahkan tes itu.

Selanjutnya, pada kedua kelompok anak diberikan tes lanjutan. Kali ini tingkat kesulitannya sangat tinggi, dan dipastikan anak berusia sepuluh tahun tidak akan bisa memecahkannya. Pada tes yang ketiga, dengan tingkat kesulitan yang sedang, anak-anak dari kelompok pertama menyerah setelah beberapa saat mencoba mengerjakannya, sedangkan anak pada kelompok kedua cenderung terus berusaha pantang menyerah.

Anak dari kelompok kedua yakin bahwa dengan berusaha keras mereka pasti bisa memecahkan persoalan itu. Semakin lama mereka berusaha, mereka justru makin menyukainya. Sebaliknya, anak dari kelompok yang pertama mudah menyerah sebab mereka yakin bahwa kecerdasannya ada batasnya, dan tes yang diberikan kepadanya berada di luar batas kecerdasannya. Mereka yakin usaha sekeras apapun tidak akan ada hasilnya.  

Ada dua kesimpulan dari hasil penelitian Mueller dan Dweck.

Pertama, usaha manusia dalam memecahkan persoalan tidak berkaitan dengan adanya kehendak mereka yang bebas, tapi lebih kepada prekonsepsi atau keyakinan yang mereka punyai sebelumnya. 

Kedua, hasill studi ini menunjukkan bahwa kita memang sebaiknya menanamkan pola pikir pentingnya usaha keras pada diri anak-anak ketika mereka menghadapi persoalan dalam hidup, alih-alih mengatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah ditentukan oleh kecerdasan mereka. Kecerdasan ada batasnya, usaha tidak. 

Dari sini, sepertinya aku paham mengapa sebagian masyarakat kita sulit sekali diajak berpikir kritis dan sedikit rumit, sebab banyak di antara mereka yang sejak kecil diajarkan bahwa kemampuan pikiran manusia ada batasnya. Mereka dibesarkan dengan kalimat-kalimat seperti “Jangan menuhankan akal”, “Kecerdasan manusia itu ada batasnya. Biarlah hal itu menjadi rahasia ilahi.”, “Jangan berusaha melawan takdir”, dan seterusnya. 

Di satu sisi kalimat-kalimat itu memberikan rasa nyaman, menjadi “bantalan” terhadap segala guncangan mental akibat kegagalan-kegagalan kita di dalam hidup. Orang umumnya berusaha mencari sebuah pembenaran bahwa di balik semua kegagalan dalam hidupnya terdapat suatu hikmah yang bisa diambil.

Kita tidak mau menyebut kegagalan kita mendeskrpisikan diri kita sebagai individu yang bodoh, ceroboh, impulsif, atau tamak, meskipun kenyataannya seringkali begitu. Kita perlu sebuah kisah positif yang mampu menetralisir pikiran-pikiran erosif bagi ego kita. Tanpa kemampuan otak untuk menjastifikasi kegagalan itu, kita sangat mungkin jatuh ke dalam kondisi depresi.

Namun, di sisi lain, kalimat itu mendorong kita terlena dengan kemampuan otak kita sendiri dan memiih untuk menyerah lebih awal.