Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Persepsi diri di era internet

Menurut data tahun 2021, ada lebih dari 4,5 milyar orang, atau sekitar 57,6% dari total populasi di dunia punya akun media sosial. Kalau pengguna ponsel ada sekitar 5,29 milyar orang di dunia, maka artinya ada lebih dari 85% orang yang memegang ponsel, punya akun media sosial. Angka ini meningkat terus dari tahun ke tahun dengan rata-rata peningkatan  sebanyak 450 juta orang setiap tahun atau setara 1,2 juta orang per hari bergabung ke dalam media sosial.

Bayangkan setiap sepuluh hari, orang se-Jakarta bergabung ke dalam media sosial seperti Facebook, Tiktok, Instagram, atau Twitter. Di antara berbagai “platform” media sosial, Facebook menempati urutan pertama dengan lebih dari 2,8 milyar pengguna.


 Pertanyaannya mengapa manusia begitu gandrung dengan media sosial?

Jawabannya sederhana, kita, Homo sapiens, adalah makhluk sosial. Menjadi bagian dari komunitas sosial adalah naluri alamiah kita, sealami naluri untuk makan, buang air, tidur dan berkembang biak. Hidup bersosialisasi begitu penting bagi otak kita sebab dengan berinteraksi dengan Individu lain, otak kita dapat menciptakan konsep tentang “diri”.

Dengan menduga apa yang dipikirkan orang tentang kita, otak kita mengkonstruksikan siapa diri kita. Tanpa konsep tentang diri kita, kita tidak tahu di mana posisi kita dalam kehidupan sosial, dan bagaimana mengarungi lansekap sosial. Mencari pasangan atau membangun kerjasama dengan individu lain memerlukan konsep tentang diri.

Karena platform media sosial dapat memenuhi naluri bersosialisasi kita, maka tak heran kalau penggunanya makin hari makin banyak. Orang dapat menemukan dirinya melalui media sosial, terutama mereka yang dengan kesibukannya sehari-hari tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi.

Orang-orang yang terisolir dalam ruang kerja ini bisa memenuhi naluri untuk menemukan dirinya kembali melalui media sosial. Selama manusia masih punya naluri bersosialisasi, media sosial tidak akan pernah hilang. Justru sebaliknya, penggunanya makin banyak, pun aplikasinya makin beragam. Anak-anak kita ke depannya akan semakin lekat dengan media sosial, juga diri kita.

Kalau di  masa remaja kita dan orangtua kita dahulu terbiasa menemukan “jati diri” melalui pergaulan di sekolah atau teman-teman sekampung, anak dan cucu kita bakal menemukan "jati diri"nya di dalam Internet. Get used to it, boomer.  

Tapi apakah kehidupan sosial di dalam dunia maya sama dengan kehidupan sosial di dunia riil? Seberapa besar efek media sosial terhadap kehidupan sosial riil orang? Kehidupan sosial di dalam dunia maya tentu sangat berbeda dengan dunia riil.

Interaksi sosial tidak lagi melibatkan komponen komunikasi seperti mimik wajah dan intonasi suara. Dua komponen utama yang menjadi fondasi komunikasi verbal manusia sejak jutaan tahun yang lalu kini tergantinkan dengan tulisan dan gambar di layar LCD. 

Jauh sebelum platform media sosial bermunculan, ada kisah menarik yang melibatkan dua sejoli dari Newquay, Inggris, yaitu David Pollard dan Amy Taylor di tahun 2003. Mereka berdua pernah bertemu di sebuah aplikasi chatroom dan memutuskan untuk bertemu di dalam sebuah online game, “Second Life”. Second Life adalah online game yang mensimulasikan kehidupan sosial menggunakan avatar yang bisa Anda modifikasi sendiri.

Anda bisa menjadi siapapun dan apapun di dalam Second Life. David Pollard memilih menjadi Dave Barmy, seorang pria berusia 20-an tahun, berperawakan tinggi langsing, rambut gondrong berwarna hitam, pemilik sebuah klub malam dan tinggal di sebuah vila megah. 

Sementara Amy Taylor memiliki avatar bernama Laura Skye, tokoh yang tidak kalah eksotiknya. Laura Skye adalah seorang wanita berusia 20-an tahun juga, beperawakan langsing dengan tinggi badan 180 cm, berambut hitam dan tinggal di sebuah rumah mewah. 

Kenyataanya, baik David Pollard maupun Amy Taylor berbadan tambun. David Pollard adalah pria obes, botak, berusia empat puluh tahun, dan pengangguran, sedangkan Amy Taylor adalah wanita obes, pendek, berambut merah, dan juga pengangguran.

Tak ada gambaran yang lebih kontras dengan apa yang mereka tampilkan di dalam kehidupan online-nya. Ketika mereka berdua bertemu online sebagai Dave Barmy dan Laura Skye, keduanya saling jatuh cinta. Amy memutuskan untuk hidup serumah dengan David. Dua tahun setelahnya mereka memutuskan untuk menikah. Kisah cinta yang indah. 

Tapi, tunggu dulu. Dua tahun setelah menikah, mereka sesuatu yang buruk terjadi. Amy mulai curiga terhadap kelakuan David di dalam Second Life. Amy menyewa detektif virtual di dalam Second Life untuk membuntuti ke mana pun Dave Barmy pergi hingga di suatu waktu, Amy memergoki David Pollard sedang menatap monitor komputernya di mana avatarnya, Dave Barmy, sedang bercumbu dengan avatar lain bernama Modesty McDonnell.

Karena insiden itu, Amy menggugat cerai David kendati David tidak keluar kamar sama sekali ketika perselingkuhan itu terjadi. 

Bagi Amy, perselingkuhan online lebih menyakitkan daripada perselingkuhan riil. Menurut Amy, di dunia riil, segala kelemahan dan kekurangan kita seringkali menjadi alasan mengapa kita jenuh atau muak dengan pasangan. Tapi di dunia online, segala kekurangan itu sudah dihilangkan.

Di dalam dunia online, Amy sudah menciptakan sosok dirinya yang sempurna, namun toh hal itu tidak membuat David puas. Baik bagi Amy maupun David, diri di kehidupan sosial virtual sama pentingnya, sama nyatanya dengan kehidupan sosial riil. 

Kisah David Pollard dan Amy Taylor di atas memberikan gambaran bagi kita bagaimana kehidupan dunia maya di media sosia dapat memancing keluarnya sosok diri kita yang lain. Sosok diri yang berbeda dengan kehidupan sosial riil.

Atmosfer dunia maya yang berbeda mendorong terlahirnya persepsi diri yang berbeda pula. Lalu siapa diri kita sebenarnya? Banyak orang yang mengatakan apa yang kita tampilkan di dalam media sosial menggambarkan sosok diri yang sejati, tapi persepsi diri sejati macam apa yang berada di luar norma sosial riil?

Dunia maya tidak memancing diri yang yang sejati, ia hanya menyediakan ruang bagi munculnya persepsi diri yang lain. Apa yang kita sebut diri sebenarnya hanya sekadar ilusi yang dibentuk oleh konteks sosial tempat kita hidup.