Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menghubungkan Otak Ke Komputer

Dulu waktu menonton film The Matrix, aku masih seusia SMP. Aku tidak paham apa yang diceritakan di dalam film itu. Bagaimana otak orang bisa disambungkan ke komputer lalu tiba-tiba dunianya berubah? Bagaimana program komputer bisa dipersepsikan sebagai dunia yang tampak nyata? Bagaimana kenyataan yang kita rasakan sebenarnya hanyalah sebuah ilusi yang dikonstruksikan oleh otak berdasarkan input dari panca indera kita?


Film The Matrix menceritakan seorang tokoh bernama Neo yang hidup di tahun 1999 dan bekerja sebagai seorang programmer sekaligus peretas. Neo penasaran dengan apa yang disebut dengan “The Matrix”. Di tengah pencariannya tentang apa itu “The Matrix”, dia bertemu dengan Morpheus yang mengatakan bahwa The Matrix adalah sebuah program komputer tempat di mana mereka hidup. Semua yang dirasakan nyata oleh mereka semua sebenarnya hanyalah ilusi semata yang diciptakan oleh program komputer The Matrix.

Ternyata fakta yang sesungguhnya adalah mereka semua, termasuk seluruh manusia di bumi, bukan hidup di tahun 1998, tapi hidup jauh di masa depan, di dalam sebuah ‘pod’ yang tersambung ke komputer raksasasa.

Entitas AI (Artificial Intelligence) di dalam komputer itu memperoleh energi dari aktivitas kelistrikan yang dihasilkan tubuh manusia, sementara manusia hidup di dalam alam mimpi yang dikendalikan oleh sang AI melalui program The Matrix. Semua yang dirasakan nyata di dalam dunia manusia sebenarnya adalah simulasi komputer belaka. Apa yang bisa dilihat, disentuh, dicium, diraba, dan dirasakan oleh panca indera manusia ternyata hanya manifestasi dari kemampuan program The Matrix untuk merangsang sel-sel saraf spesifik di dalam otak manusia sehingga bisa dipersepsikan seperti sebuah kenyataan.

Film ini sebenarnya menggugah kesadaran kita, bukan atas kenyataan bahwa kita hidup di dalam komputer, tapi atas kenyataan bahwa sebenarnya kita semua hidup di dalam semesta yang dibentuk hanya oleh sensasi inderawi dan persepsi. Partikel foton yang terpantul dari obyek di luar sana menumbuk sel-sel fotoreseptor di permukaan retina mata, diubah menjadi impuls elektrik yang mengalir menuju ke otak.

Lalu otak akan mengolah data impuls elektrik itu untuk merekonstruksi obyek apa yang tertangkap penglihatan kita. Gelombang mekanik mengalir di udara, masuk ke dalam telinga, menggetarkan sel-sel rambut di dalam organ telinga dalam, diubah menjadi impuls elektrik, masuk ke dalam sel saraf di otak, lalu dipersepsikan sebagai suara atau bunyi tertentu. 

Jadi, sebenarnya apa yang kita persepsikan sebagai kenyataan tak lebih dari sinyal-sinyal impuls elektrik di dalam otak. Bagaimana kalau seandainya kita merangsang area otak yang terlibat dalam pembentukan persepsi inderawi menggunakan elektroda? Ternyata hasilnya sama. Hasil eksperimen pada pasien yang menjalani pembedahan otak dalam kondisi sadar menunjukkan kalau mereka mengaku bisa melihat sesuatu ketika sel-sel saraf di otak yang berhubungan dengan penglihatan dirangsang menggunakan elektroda. Ilusi itu dengan mudah terbentuk, membangkitkan “realita” lain terlepas dari realita obyektif. Bahkan emosi pun bisa kita bangkitkan secara spontan hanya dengan merangsang area spesifik di dalam otak menggunakan elektroda.

Pasien bisa marah, senang, atau sedih hanya karena aliran impuls elektrik dari elektroda ke sel-sel saraf tertentu. Dengan kenyataan bahwa sensor mata kita hanya bisa menangkap gelombang elektromagnet dalam rentang cahaya tampak yang menduduki hanya sekian persen dari seluruh panjang gelombang elektromagnet yang ada di semesta, telinga kita yang hanya bisa mendengar suara dengan rentang frekuensi 20-20.000 Hz, sesungguhnya kepala kita adalah sebuah cangkang yang tidak berbeda jauh dengan ‘pod’ dalam film The Matrix.

Apa yang bisa dipersepsikan oleh otak kita terbatas oleh apa yang bisa ditangkap oleh panca indera kita. Persepsi itu hanya secuil dari realita semesta yang ada di luar sana. Perangkat pengolahan pikiran dalam otak yang bisa mengolah input data sensorik dan mengkonstruksikan realita, atau yang kita anggap realita, secara spontan di luar kehendak kita ibarat program Matrix.