Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa seorang dokter malas berolahraga?

Mengapa seorang dokter malas berolahraga dan makan ngawur meski tahu apa konsekuensinya? Mengapa seorang guru berperilaku tercela? Dan yang terakhir, yang lagi panas, mengapa seorang pemuka agama, yang seharusnya menjadi teladan urusan moralitas relijius malah melakukan sesuatu yang sangat bejat? Mengatakan bahwa manusia adalah makhluk fana yang tak luput dari kesalahan tidak menjelaskan apapun. 

Inkonsistensi bisa ditemukan di semua sisi perilaku manusia karena memang faktanya apa yang kita persepsikan sebagai "diri" atau "self" yang tunggal hanyalah ilusi. Kita mempunyai banyak wajah "diri" yang berbeda, saling bertolak belakang dan menyabotase satu sama lain.

Alih-alih berfungsi sebagai satu unit tunggal pengolah data, pikiran kita lebih mirip orkestra yang terdiri dari banyak pemain dengan instrumen yang berbeda-beda. Ada kalanya antar pemain ada harmoni sehingga menghasilkan musik yang indah, tapi ada kalanya hal yang sebaliknya terjadi sehingga menghasilkan nada-nada yang sumbang, tidak konsisten satu sama lain, didominasi oleh beberapa pemain, sementara yang lain tidak terdengar. 

Hal-hal seperti di atas kadang memicu orang untuk berkata "aku tidak menduga kamu bisa melakukan hal seperti itu" atau "aku sungguh tak mengenalmu lagi."