Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kematian

Aku rasa tidak ada orang waras di bumi ini yang tidak pernah berpikir tentang kematian. Kematian itu paradoks. Mengapa disebut paradoks? 

Kalau populasi manusia yang lahir dihitung dari sejak tahun 50.000 tahun SM sampai tahun 2017 ada sekitar 108 milyar dan hari ini ada 7,8 milyar masih hidup, artinya, hanya ada sekitar tujuh persen dari semua yang pernah lahir di bumi, kini masih hidup. Sisanya yang berjumlah 100,2 milyar itu telah mati. Kelak kita pun akan menyusul.

Kita tahu suatu saat kita pasti akan mati, namun kita tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mati. Bagaimana bisa membayangkan rasanya mati kalau untuk membayangkannya saja kita memerlukan otak yang hidup? Paradoks. Anda bisa membayangkan rasanya manis sebab memori tentang rasa manis itu tersimpan dalam bentuk sirkuit sel-sel saraf yang ada di dalam otak Anda. 

Demikian juga Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya tempe, yang sekarang langka, sebab Anda punya memori tentang rasa tempe yang tersimpan di dalam sirkuit sel saraf otak Anda. Sel-sel itu hidup. Ketika sel-sel itu mati segala memori, persepsi, emosi, ide, kesadaran kita hilang bersamanya. Tidak ada memori setelah kematian, pun tak ada orang hidup yang menyimpan memori tentang kematian.

Menanyakan di mana kesadaran kita setelah kita mati itu sepetti menanyakan ke mana perginya denyut jantung setelah sel-selnya mati? Ke mana perginya suara seruling setelah seruling itu patah? Ke mana kesadaran Anda sebelum Anda lahir ke dunia? Kalau jagad raya ini sudah berusia 13,5 milyar tahun dan Anda baru lahir beberapa tahun lalu, ke mana saja kesadaran Anda selama 13,5 milyar tahun sebelumnya? Bagaimana rasanya? Paradoks.

Apakah kita satu-satunya makhluk hidup di bumi yang bisa menyadari tentang kematian? Aku tidak tahu pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mungkin beberapa hewan lain, terutama yang tergolong hewan sosial, paham tentang konsep kematian. Kera dan gajah adalah contohnya. Mereka tampak menunjukkan ekspresi emosional terhadap kerabatnya yang mati atau tulang belulang sesamanya. 

Bagaimana dengan nenek moyang kita para Hominin itu? Apa bukti bahwa mereka sudah mulai menyadari tentang kematian? 

Salah satu pertanda riil sejak kapan nenek moyang kita menyadari bahwa kehidupannya kelak akan berakhir adalah bukti adanya situs penguburan yang ritualistik. Mereka yang mulai memahami kematian, akan memahami pula konsekuensi fisik yang terjadi pada tubuh yang mati itu. Mereka sudah paham bahwa mereka yang mati akan mengalami pembusukan lalu mengeluarkan bau yang menyengat. 

Dengan demikian, memendamnya di dalam tanah sebelum semua itu terjadi adalah langkah antisipatif yang rasional. Sebelum mengambil langkah itu, tentu mereka harus terlebih dahulu punya konsep tentang kematian dalam benak mereka yang membedakannya dengan tidur. Adalah hal yang konyol kalau mereka menguburkan kerabatnya yang ternyata tidur.

Hewan-hewan tingkat rendah seperti reptil, amfibi apalagi ikan, tidak memiliki konsep seperti itu, dan itulah sebabnya mereka tidak menguburkan kerabatnya yang mati atau melakukan suatu ritual yang setara dengan penguburan pada manusia.

Paradoks tentang kematian mengundang rasa tidak nyaman, histeria, dan ketakutan. Karena alasan ini banyak peradaban di sepanjang sejarah memberikan respons naratifnya sendiri-sendiri memecahkan paradoks itu. Semua narasi itu secara garis besar bisa dibagi ke dalam empat kategori yang senantiasa berubah mengikuti dinamika kehidupan sosial. Aku akan jelaskan nanti satu per satu.