Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hipnotis

Saat membahas hipnotis, maka yang terbayang oleh sebagian besar dari kita adalah acara hipnotis ala Uya Kuya. Dalam acara itu orang bisa disuruh tidur lalu mengaku apapun yang ada di dalam memori otaknya di luar kehendaknya. Itu sih acara bualan. 

Hipnotis dan sugesti itu memang ada, tapi bukan seperti itu. Hipnotis dan sugesti itu bisa dengan mudah ditanamkan ke dalam benak orang melalui cara-cara yang sederhana karena kecenderungan otak kita untuk mematuhi sosok otoriter. 

Kasus pertama, bayangkan Anda bertamu saat hari raya ke rumah kerabat. Saat bertamu sudah tentu akan ada banyak makanan disuguhkan ke hadapan Anda. Anda menolak suguhan dari tuan rumah karena Anda merasa kenyang.

Tuan rumah memaksa Anda untuk mengambil sesuap saja kudapan di hadapan Anda sebagai bentuk penghormatan. Anda tidak kuasa menolak dan mengambil makanan itu. Itu hipnotis. Anda melawan naluri kenyang dalam benak Anda sendiri untuk mengikuti kehendak orang lain yang memegang otoritas dalam hal ini adalah si tuan rumah.

Kasus kedua, bayangkan Anda duduk di bangku sekolah SMA. Guru kesenian Anda menunjuk Anda untuk menyanyi di depan kelas. Anda sebenarnya malu melakukan hal itu karena tahu suara Anda sumbang.

Kalau Anda menyanyi, pasti bakal ditertawakan teman-teman sekelas. Tapi toh kaki Anda tetap maju ke depan kelas dan Anda tetap mengeluarkan suara sebab begitu perintah guru. Itu juga hipnotis. Anda mengikuti perintah faktor eksternal otoriter melawan pikiran dalam benak Anda sendiri.

Orang bisa menuruti kehendak siapapun ketika mereka mulai menyerahkan otoritasnya sendiri kepada orang lain.

Hipnotis hadir dalam keseharian hidup kita tanpa kita sadari, bukan cuma dalam acara televisi abal-abal atau berita-berita gendam. Anda sadar sepenuhnya saat melakukan semua kehendak orang, tapi merasa tidak berkuasa. Orang lain itulah yang berkuasa.