Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Efek Anonimitas

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan menyatakan di sebuah status bahwa dirinya ingin bunuh diri dengan sekalian menyertakan foto tangannya memegang sebliah pisau. Banyak orang yang justru melontarkan komen agar ia segera melakukannya saja. Kejadian seperti ini disebut dengan istilah “suicide baiting”.

Khalayak ramai justru mengumpan orang yang akan melakukan bunuh diri agar sungguh-sungguh melakukannya. Mungkin yang ada di benak mereka, kapan lagi melihat tontonan seperti itu? Tidak tiap hari kita menyaksikan orang bunuh diri kan? Asyik!

Efek Anonimitas

Kalau aku cermati satu per satu mereka yang komen, rata-rata akun palsu, anonim, atau kalaupun akun asli, tampak baik-baik saja. Posttingan-postingannya sama seperti orang normal pada umumnya. Tidak ada yang mencolok. 

Mengapa orang-orang melakukan hal-hal seperti itu? 

Pada bulan Januari 2010, seorang wanita yang hendak bunuh diri berdiri di tepian sebuah jembatan layang M60 Inggris. Jalanan dibuat macet total selama empat jam akibat ulahnya itu sebab mobil polisi berderet di dekatnya, berusaha membujuk agar wanita itu mengurungkan niatnya.

Steve Penk, seorang DJ sebuah stasiun radio lokal yang tahu berita itu, yang usil terinsipirasi untuk memutar lagu Van Halen berjudul “Jump” agar para pengendara mobil yang frustrasi di tengah kemacetan sedikit terhibur. 

Sesaat kemudian si wanita itu benar-benar meloncat ke bawah. Tubuhnya menghunjam tanah di bawahnya. Untungnya ia tidak tewas, meski mengalami cedera serius. Kabar beredar bahwa ia meloncat setelah mendengar suara lagu “Jump” yang terdengar dari radio salah satu pengendara mobil yang sengaja diputar keras-keras oleh si pemilik mobil.

Penk mengaku tidak menyesal atas berita itu. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak sungguh-sungguh bermaksud menyuruh si wanita itu meloncat. Ia hanya bercanda untuk menghibur pengendara di tengah kemacetan. 

Kalau dipikir sejenak, kecil kemungkinan Penk melakukan hal itu kalau ia berhadapan langsung dengan si wanita tanpa kehadiran para pendengarnya. Penk mau melakukannya sebab ia merasa ingin menyenangkan hati para pendengarnya. Pun para pendengar yang ada di dalam mobil juga tidak bermaksud untuk mencelakai si wanita. Lalu mengapa mereka melakukannya hari itu?

Mengapa manusia melakukan hal sekonyol itu terhadap sesamanya?

Mereka semua telah mengalami deindividualisasi, atau kehilangan ‘diri’ individualnya, dan terjebak ke dalam mentalitas kelompok. 

Salah satu survei yang pernah dilakukan terhadap 166 kejadian percobaan bunuh diri AS antara tahun 1966-1979, publik hadir pada dua puluh kejadian di antaranya. Publik justru menyoraki si korban percobaan bunuh diri agar sungguh-sungguh melakukan aksinya pada separuh kesempatan. 

Beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan publik untuk berperilaku seperti itu adalah jumlah orang yang terlibat, jarak antara korban dengan massa, dan waktu, Semakin banyak massa, semakin jauh jarak antara massa dengan korban, dan semakin gelap suasana saat terjadinya aksi, semakin tinggi kemungkinan massa ikut menyoraki korban untuk segera mengeksekusi aksinya. Semua faktor itu terkait dengan anonimitas. 

Status anonimitas yang didapatkan orang mendorong mereka untuk melepaskan segala tanggungjawab perbuatan individuilnya dan dengan demikian mendorong keluarnya perilaku antisosial.

Penjarahan massal, pemerkosaan massal, pengeroyokan, vandalisme, adalah contoh bagaimana orang-orang bergerak secara sinkron dalam mentalitas kelompok dengan melepaskan kehendak-kehendak individuilnya yang tunduk pada norma sosial.

Sebaliknya, semakin pudar anonimitas orang, semakin meningkat pula konformitas sosialnya dalam bentuk perilaku yang beretika dan rasional. 

Hal ini menjelaskan hasil survei mengapa 71% siswa menyontek saat ujian ketika ditinggalkan oleh gurunya dan hanya 7% yang terus menyontek ketika di dalam ruangan yang sama dipasangi banyak cermin.

Pantulan diri seseorang dari cermin menggugah kesadaran tentang eksistensi diri yang harus bersikap etis dalam lingkungan sosial. Bayang-bayang diri mereka di cermin itu seolah berlaku seperti orang yang mengenali diri sejati mereka sehingga mencegahnya berbuat curang atau immoral.

Tanpa relfeksi diri, baik melalui cermin maupun melalui kehadiran individu yang mengenali diri kita, manusia menjadi budak naluri impulsifnya yang liar.