Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Diri yang Jamak

Film-film seperti “The Bourne Identity”, “50 First Dates”, dan “Fractured”, adalah sederetan film Hollywood yang mengisahkan arti pentingnya memori personal yang ikut membentuk konsep tentang diri. Tanpa memori-memorinya di masa lampau yang terkait nama, tempat tinggal, pekerjaan, prestasi di masa lampau, dan lain sebagainya, orang bisa mempersepsikan dirinya sama sekali berbeda dan bertindak berbeda terhadap situasi yang sama. 

Dalam film berjudul ‘Fractured”, misalnya, dikisahkan seorang pria bernama Ray menuduh sebuah Rumah Sakit di kota kecil telah menculik anak dan istrinya untuk diambil organnya padahal ia sendirilah yang telah membunuh anak dan istrinya. Kondisi mentalnya yang terguncang akibat pembunuhan itu membuatnya lupa ingatan mendadak.

Kini Ray yang “baru”, tanpa memori tentang pembunuhan terhadap anak dan istrinya, justru menuduh pihak lain yang melakukan hal itu. Karakter Ray berubah seketika dari seorang kriminal keji menjadi pria baik-baik yang merasa menjadi korban. 

Kisah di atas mungkin Anda kira hanya terjadi di film, tapi kenyataannya tidak. Gangguan mental berupa hilangnya memori mendadak akibat situasi yang sangat traumatik adalah gangguan yang nyata. Kondisi seperti ini umumnya dikenal dengan istilah gangguan disosiatif, atau disosiatif fugue. 

Contoh kasus yang nyata pernah dipublikasikan di jurnal ilmiah tahun 2013. Pada suatu hari di tahun 2013, seorang pria berusia 28 tahun asal Nigeria dinyatakan menghilang oleh keluarganya. Sepuluh hari sejak keluarganya melaporkan, ia ternyata ditemukan berada di rumah saudaranya yang berjarak 634 km dari kota asalnya. Pria itu mengaku tidak ingat sama sekali bagaimana ia bisa sampai ke sana dan mengapa ia ke sana. Ingatan terakhirnya adalah ketika ia berada di dalam sebuah perpustakaan kota asalnya.

Malam itu ia ingat sedang belajar dan mempersiapkan materi presentasi untuk keesokan harinya. Ia adalah mahasiswa kedokteran yang memiliki banyak problem akademik dan ekonomi. Hasil analisis psikolog menemukan bahwa pasien tidak mengalami gangguan jiwa selain gangguan disosiatif. Kondisi akademik dan ekonominya menyebabkan ia kehilangan memorinya barang sesaat dan mendorongnya minggat dari rumah di luar kehendak sadarnya. 

Beberapa kasus lain bahkan lebih dramatis. Kadang orang yang mengalani kondisi disosiatif fugue tiba-tiba meninggalkan rumahnya, kehilangan memorinya sama sekali tentang kehidupan lalunya itu, mengambil identitas yang baru lantas menjalani kehidupannya yang baru itu. Gene Saunders, seorang pria berusia 42 tahun berubah menjadi Burt dan tinggal di kota yang jauhnya 320 km dari kota asalnya. 

Burt sama sekali lupa tentang masa lalunya bahwa ia sudah memiliki istri dan anak. Ia ditemukan kembali oleh istrinya setelah beberapa waktu meninggalkan rumah. Sehari sebelum meninggalkan rumahnya, Gene sempat cekcok sengit dengan anaknya yang berusia 18 tahun. Gene rupanya sangat tersinggung setelah disebut sebagai ayah yang gagal oleh anaknya. Sebutan itu mengoyak mental Gene yang akhirnya menyebabkannya mengalami disosiatif fugue. 

Kasus-kasus gangguan disosiatif tampaknya memberikan gambaran bahwa ada banyak “diri” dalam benak kita yang bisa memiliki kehendaknya sendiri-sendiri. Dalam kondisi normal, masing-masing diri ini kita sering persepsikan sebagai naluri-naluri yang saling berebut mencuri perhatian kesadaran kita.

Apa yang akhirnya keluar menjadi sebuah perilaku bergantung pada konteks sosial tempat kita berada dan memori-memori kita. Namun dalan kondisi ekstrim, misalnya oleh karena frustrasi, “diri” ini bisa merebut tuas kendali sadar kita. Ia bisa muncul menjadi apa yang kita sebut sebagai ‘alter ego’. 

Kasus Billy Milligan pada tahun 1970an di AS adalah contoh kasus bagaimana gangguan disosiatif bisa muncul dalam bentuknya yang ekstrim. Billy Milligan bernama asli William Stanley Milligam, adalah seorang pria asal Ohio, AS, yang lahir pada tahun 1955. Pada tahun 1978 ia ditangkap oleh satuan kepolisian Ohio karena tuduhan pemerkosaan terhadap empat orang wanita di Ohio State Campus yang dilakukan setahun sebelumnya.

Pada awalnya profil Billy tampak seperti pemuda problematik pada umumnya, tampang yang lusuh seperti pemabuk dan berasal dari keluarga yang problematik pula. Billy memiliki masa kecil yang kelam. Ia sering dipukuli oleh ayah angkatnya. 

Semuanya berubah ketika dari hasil analisis psikologis ditemukan bahwa BIlly memiliki banyak sekali kepribadian yang berbeda. Seolah ada lebih dari satu “ruh” tinggal di dalam diri Billy. Para psikolog yang memeriksanya menemukan sedikitnya ada sepuluh “orang” berbeda yang tinggal di dalam tubuh BiIlly.

Dua di antara “orang” itu bahkan adalah wanita dan salah seorangnya, yang mengaku bernama Adelena, seorang wanita lesbian, mengaku melakukan pemerkosaan terhadap empat wanita di Ohio State Campus tahun 1977. Seorang “anak” bernama David, alter ego Billy yang lain, yang akhirnya menelepon kantor polisi untuk melaporkan Adelena. 

Billy Milligan adalah kasus pertama di dunia tentang “kepribadian ganda” yang masuk ke dalam ruang persidangan. Pengadilan memutuskannya tidak bersalah dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa agar dirawat selama sepuluh tahun. Berbagai kepribadian atau “diri” dalam benak BIlly terbentuk selama ia mengalami trauma akibat siksaan ayah angkatnya semasa kecil.

Kasus kepribadian ganda ini menjad bukti yang kuat bahwa konsep diri yang tunggal dan koheren itu sebuah ilusi. Mungkin ada di antara kita yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada BIlly tidak serta merta bisa mendeskripsikan bagaimana sebenarnya otak kita bekerja dalam menciptakan ilusi tentang diri, lagipula Billy adalah orang sakit sedangkan kita normal.

Tapi benarkah kita se’normal’ itu? Lihat saja bagaimana pengaruh media sosial dalam memancing “diri” orang keluar dari konteks sosial riilnya. Lihat bagaimana kehidupan sosial riil orang bisa sangat berbeda dengan kehidupannya di dunia maya. Lalu kalau begitu yang mana yang bisa Anda sebut mewakili “diri” Anda yang sebenarnya? Aku akan bahas tentang pengaruh teknologi internet terhadap konsep “diri” dalam kehidupan modern ini nanti.

ps: foto do bawah adalah foto Billy Milligan. Kisahnya diangkat ke dalam serial dokumenter Netflix berjudul "Monsters Inside: 24 Faces of BIlly Milligan"