Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buta pikiran

Dalam bukunya yang berjudul “The Empathic Brain”, seorang ilmuwan neurosains, Christian Keysers, pernah bercerita tentang seorang mahasiswa yang bernama Jerome. Jerome adalah mahasiswa doktoral di bidang fisika teoretik. Salah satu kolega Keysers, Bruno Wicker yang memperkenalkan Jerome kepada Keysers. Ketika pertama kali memasuki ruangan Keysers, Jerome berbicara dengan suara datar dan tidak sekalipun matanya menatap mata Keysers ketika berbicara. 

Di ruangan itu, Bruno menunjukkan sebuah kotak kue kering kepada Jerome seraya bertanya, “Apa yang kau kira ada di dalam kotak ini, Jerome?”, 

“Kue kering”, jawabnya. 

Bruno membuka kotak itu dan menunjukkan bahwa isinya ternyata adalah pensil. Sesaat kemudian, asisten Bruno masuk ke ruangan itu. Bruno kembali bertanya kepada Jerome, "Kira-kira apa yang ia (asisten peneliti) kira ada di dalam kotak ini?”

“Pensil.” Jawab Jerome. 

Dialog di atas menunjukkan bahwa Jerome tidak mampu berpikir bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran yang keliru. Jerome adalah mahasiswa doktoral di bidang ilmu yang benar-benar rumit dan hanya bisa dikuasai oleh segelintir orang-orang cerdas, namun ia tidak mampu menebak apa yang ada di dalam pikiran orang lain dengan benar bahkan untuk kasus yang paling sederhana sekalipun, yaitu berpikir bahwa orang lain punya keyakinan yang keliru tentang isi kotak kue.

Dengan kata lain, ia tidak mampu berpikir bahwa di dalam kepala orang lain, ada pikiran-pikiran lain yang bisa saja berbeda dengan yang ada di dalam pikirannya sendiri. Kondisi yang dialami Jerome adalah gambaran tentang penderita Sindrom Asperger, yaitu gangguan mental yang masih tergolong ke dalam Autism Spectrum Disorder (ASD). 

Para penderita Sindroma Asperger umumnya memiliki kendala dalam bersosialisasi dan komunikasi. Mereka tidak bisa bersosialisasi dengan luwes sebab mereka tidak bisa memprediksi intensi atau ‘isi hati’ orang-orang di sekitarnya dengan tepat. Padahal, supaya bisa berinteraksi sosial dengan baik, orang perlu kemampuan untuk memprediksi intensi orang lain dan mengantisipasinya. Kita perlu kepekaan tentang kehendak orang agar mendapatkan perhatian mereka.

Misal, ketika teman Anda datang ke tempat konser ternyata konsernya dibatalkan, dalam kondisi begitu umumnya orang akan merasa kecewa. Sebagai teman, kita akan berusaha menghibur atau mengalihkan perhatian teman kita itu tadi agar melupakan kejadian mengecewakan yang baru saja menimpanya tanpa mereka minta.

Kita mampu memprediksi apa yang ada di pikiran mereka dan bagaimana perasaan mereka meskipun mereka tidak mengungkapkannya secara verbal. Respons seperti itu tidak terjadi pada penderita Sindroma Asperger. Mereka tidak mampu menebak isi pikir orang, jadi terkesan cuek dan dingin. 

Sindroma Asperger adalah salah satu jenis Autisme yang fungsional. Mereka umumnya memiliki kecerdasan dan fokus yang normal. Tak jarang bahkan di antara mereka yang memilki kecerdasan yang tinggi. Ada seorang kolegaku dokter yang cerdas ternyata penderita Sindroma Asperger. Bagi orang-orang di sekitarnya yang tidak tahu tentang kondisinya, ia dianggap sebagai orang yang tidak peka terhadap kondisi sosial sehingga dijauhi. Namun, ada sisi positif dari para penderita “buta pikiran” ini, yaitu mereka cenderung jujur.

Orang yang tidak mampu berpikir bahwa orang lain bisa saja memiliki keyakinan yang keliru, tidak akan terpikir untuk memanipulasi situasi supaya orang lain punya pikiran yang keliru. Aku jadi ingat dulu seorang dosenku, dokter spesialis anak, pernah berkata bahwa pasien anak-anaknya yang menderita autisme umumnya punya karakter jujur. Kini aku tahu, mereka jujur bukan karena tidak mau berbohong, tapi tidak mampu berbohong.

Hal ini menjelaskan bahwa agar bisa menjadi bagian dari komunitas sosial, otak seseorang harus mampu mengembangkan kemampuan untuk melakukan proses ‘mentalizing’, yaitu membaca intensi individu lain dalam kelompok lalu mengantisipasinya dengan tepat, atau memanipulasinya kalau perlu. Mekanisme yang sama juga memicu munculnya konsep tentang ‘diri’ dalam benak. Aku tak tahu apakah orang-orang dengan Sindroma Asperger memiliki konsep tentang diri yang sama seperti orang normal.

Untuk alasan yang sama pula anak-anak normal lain yang masih berusia di bawah empat tahun, umumnya belum bisa berbohong, atau setidaknya belum mampu melakukannya dengan baik, sebab kemampuan mereka melakukan proses mentalizing masih belum berkembang dengan sempurna. Tandanya, mereka melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan Jerome di atas dalam ujian menebak pikiran orang. 

Sesuatu yang ironis, hal yang membuat kita mampu bersosialisasi adalah hal yang sama yang membuat kita mampu melakukan tipu muslihat. Bersosialisasi pada hakikatnya adalah saling memanipulasi satu sama lain. Mungkin karena penjabaran realita semacam ini lah orang menganggap tulisanku bernuansa suram atau negatif.

Struktur apa di dalam otak yang bertanggungjawab melakukan proses membaca intensi individu lain ini? 

Sampai saat ini ilmuwan neurosains masih belum tahu pasti jawabannya, namun ada beberapa hasil penelitian menarik terkait otak hewan-hewan sosial berukuran besar seperti monyet, kera, gajah, ikan paus, dan lumba-lumba. Mereka semua memiliki sel-sel saraf spesifik berukuran besar dengan jaras-jaras yang panjang, disebut dengan Von Economo Neuron (VEN). VEN pertama kali ditemukan oleh pakar neurologi bernama Constantin Von Economo pada tahun 1925.

VEN ditemukan tersebar di otak, terutama di bagian depan yang disebut dengan frontoisular cortex (FIC) dan anterior cingular cortex (ACC). Bagian otak yang terlibat dalam proses munculnya keyakinan, interpretasi isi percakapan, dan pengambilan keputusan dalam konteks sosial. Hal-hal yang sangat penting dibutuhkan dalam kehidupan sosial.

Pada tahun 2005 seorang pakar neurosains dari California Institute of Technology, John Allman pernah mengajukan hipotesis adanya kaitan antara jumlah sel VEN dengan autisme. VEN umumnya mulai tumbuh dan bertambah banyak sejak anak lahir sampai mencapai puncak pada usia sekitar empat tahun. Mereka yang menderita autisme memiliki jumlah VEN yang abnormal.

Fenomena ini tampaknya sebagian menjelaskan adanya gejala disabilitas sosial pada para penderita autisme itu. Penelitian ke arah ini sangat-sangat terbatas sebab umumnya VEN hanya ditemukan pada mamalia besar, termasuk manusia. Memmbuat model autisme pada hewan-hewan tersebut tentu terkendala faktor etis, pun membedah otak orang penderita autisme juga bukan hal yang mudah dilakukan.

Nah, yang menarik adalah, pertumbuhan sel-sel saraf yang bertanggung jawab terhadap proses bersosilisasi tampaknya dipengaruhi oleh mikrobiota yang ada di saluran pencernaan mereka. Banyak hasil studi pada hewan coba yang menunjukkan bahwa perubahan pada bakteri saluran pencernaan mereka diikuti oleh perubahan pada organisasi sosial, memori, dan emosi.

Sampai ke titik ini, aku tidak tahu lagi siapa atau apa sebenarnya diri kita? Bahkan kemampuan kita untuk berkomunikasi dan bersosialisasi ternyata ditentukan juga oleh makhluk yang bukan sel tubuh kita sendiri.