Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peyebab anak antisosial

Kalau ingin tahu seberapa besar pengaruh pola asuh sejak kecil terhadap perilaku manusia ketika dewasa kita bisa melihat hasil studi yang dilakukan oleh Harry Harlow pada tahun 1960-an. Dampak studi Harlow ini di bidang psikologi perkembangan sangat mendalam. 

Harlow terinspirasi dari hasil studi seorang psikiater Inggris, John Bowlby, yang menyimpulkan bahwa anak-anak yang dipisahkan dari orang tuanya dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, akan berkembang menjadi orang dewasa dengan kepribadian antisosial.

Bowlby menarik kesimpulan seperti itu setelah ia mempelajari perilaku orang-orang yang dahulunya dibesarkan di panti asuhan selama perang dunia ke-II.

Semakin kecil usia anak saat dipisahkan dari orangtuanya, semakin besar risiko anak tersebut berkembang menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang menyimpang.

Sebaliknya, anak-anak yang baru dipisahkan dari orangtuanya sejak usia lebih dari satu tahun, memiliki risiko yang lebih kecil untuk mengalami gangguan perilaku sosial. 

Saat lahir volume otak bayi hanya sekitar 30-35% volume otak orang dewasa. Ia berkembang menjadi 65-70% volume otak dewasa dalam satu tahun setelah lahir, dan berkembang lagi menjadi 80% volume otak dewasa di tahun kedua. Masa-masa ini adalah masa kritis perkembangan otak bayi.

Wajar saja kalau pola asuh dan asupan nutrisi bayi dalam satu tahun pertama sejak lahir berpengaruh sangat mendalam bagi perkembangan sistem saraf mereka mengingat perkembangannya yang paling cepat terjadi di masa itu.

Berangkat dari hasil studi Bowlby, Harlow mencoba melakukan penelitian eksperimental untuk mengetahui seberapa besar sebenarnya pengaruh pola asuh dibandingkan nutrisi terhadap perilaku individu dewasa.

Untuk melakukan eksperimen semacam itu, Harlow jelas tidak mungkin melakukannya pada anak manusia karena alasan etika. Ia melakukannya pada monyet Rhesus.

Harlow mengambil bayi-bayi monyet Rhesus yang baru lahir dari pangkuan ibunya, lalu membesarkannya dalam kandang isolasi selama waktu yang bervariasi antar bayi monyet sebelum dikembalikan ke keluarga mereka.

Mereka semua mendapatkan asupan nutrisi yang sudah terukur dengan baik beserta lingkungan fisik yang memadai. 

Bagaimana hasilnya?

Bayi-bayi monyet yang menghabiskan waktunya minimal enam bulan dalam kandang isolasi sejak lahir menunjukkan perilaku antisosial yang paling mencolok ketika dewasa.

Mereka menunjukkan perilaku hiperaktif, agresif, sering melukai diri sendiri, tidak bisa berinteraksi dengan monyet-monyet lain dan bahkan menyerang mereka.

Ketika individu seperti ini dibiarkan melahirkan anaknya sendiri, mereka menunjukkan perilaku abusif terhadap anak-anak mereka sendiri serta menelantarkannya. Siklus ini bisa berulang dari generasi ke generasi. 

Hal yang sama tidak terjadi pada bayi-bayi monyet yang dikembalikan ke pangkuan ibunya sebelum enam bulan pertama kehidupannya berakhir. Mereka tampaknya berhasil “mengejar” ketertinggalan perkembangan kemampuan untuk bersosialisasi.

Enam bulan pertama kehidupan monyet adalah masa kritis perkembangan kemampuan bersosialisasi mereka terlepas dari pengaruh nutrisi saja. 

Kesimpulan Harlow ini didukung oleh hasil studi lain yang dilakukan Donald Hebb. Hebb mendapati bahwa bayi tikus yang dibesarkan terisolir dari induknya akan menunjukkan perilaku antisosial dan kecerdasan yang rendah kendati asupan nutrisinya optimal.

Bayi-bayi tikus itu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk keluar dari labirin dibandingkan tikus-tikus lain yang dibesarkan sekandang bersama induknya.

Hasil studi Harlow dan Hebb di atas bisa menjadi model bagaimana perilaku manusia, sebagai sesama mamalia dan primata, dipengaruhi oleh pola asuh mereka sejak bayi, melengkapi hasil studi Bowlby pada anak-anak di panti asuhan.

Hasll studi Bowlby dan Harlow menjadi pengingat bagi kita semua sebelum kita memutuskan memiliki anak.

Anak tidak hanya menuntut suplai material berupa nutrisi yang cukup saja, tapi juga kebutuhan non-material seperti sentuhan, kontak mata, senyuman dan suara tawa dari orang tua mereka ketika mereka berkembang agar mereka menjadi orang dewasa yang mampu bersosialisasi dengan baik.

Sentuhan dan suara tawa di sini bukan hanya kiasan.

Hasil studi lain menujukkan bahwa bayi-bayi tuna netra yang dibesarkan dengan suara tawa dan sensasi sentuhan yang intens menunjukkan perilaku yang lebih baik ketika beranjak dewasa dibandingkan mereka yang dibesarkan tanpa semua itu.

Kecuali Anda sanggup menyediakan semua kebutuhan material dan non-material di atas kepada calon anak-anak Anda ke depannya, sebaiknya urungkan saja niat untuk memiliki anak.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang problematik sejak kecil sangat mungkin menjadi beban sosial bersama sebab mereka kelak akan menjadi anggota masyarakat.

Lain kali Anda menemukan orang-orang dewasa yang berperilaku toksik, mau menang sendiri, antisosial, keras kepala, dan dungu, ingat mereka sangat mungkin dulunya dibesarkan di lingkungan keluarga yang disfungsional.

Kalau kita sering mendapati orang-orang semacam itu di sekeliling kita, betapa miris kondisi sosial masyarakat kita yang sesungguhnya.

Banyak orang-orang problematik di luar sana yang secara serampangan memutuskan punya anak lalu mewariskan “kecacatan” perilaku mereka ke anak-anaknya seperti monyet Rhesus Harlow. 

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah perilaku menyimpang pada manusia yang disebabkan oleh pola asuh yang problematik ini bisa diperbaiki?

Atau dengan kata lain, dalam bahasa teknisnya, seberapa “plastis” otak kita dapat dibentuk melalui pengaruh lingkungan setelah mencapai periode matur yang tercermin dari pola perilaku?

Untuk menjawab pertanyaan ini aku akan menjelaskannya dengan menggunakan contoh kasus ekstrim berikutnya.

Sumber: Hendy Wijaya