Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membahas Gosip

Membahas tentang gosip ini memang tidak ada habisnya. Dari dulu banyak orang menganggap aktivitas bergosip adalah sesuatu yang buruk dan tidak patut dilakukan.

Katanya gosip bisa memelintir segala macam informasi menjadi sesuatu yang tidak benar dan merugikan banyak pihak. Sebenarnya apa yang ditakutkan orang bukan bergosip itu sendiri melainkan reputasinya yang hancur karena gosip.

Buktinya, orang bisa dengan lantang menyatakan protes kepada siapapun yang menggosipkan dirinya jelek meski kenyataannya hal itu adalah fakta.

Misalnya, ada seorang yang jelas-jelas terbukti melakukan pelecehan seksual pada anak-anak, namun protes keras dan mengancam akan menuntut secara hukum siapapun yang menggosipkan dirinya sebagai predator seks. 

Sebaliknya, orang pada umumnya akan diam seribu bahasa kalau dirinya digosipkan yang baik meski itu hanya bualan saja. Apakah para politisi di negara ini pernah protes ketika dicitrakan sebagai sosok yang baik oleh para pendukungnya? Tidak pernah ada.

Meski fakta sebenarnya  jauh dari apa yang kita kenal melalui gosip para pendukungnya tadi. Tidak pernah ada judul berita politisi X menggelar jumpa pers untuk mengklarifikasi bahwa sebenarnya dirinya tidak jujur-jujur amat seperti yang diberitakan, yang ada malah berita mereka ditahan KPK.

Kalau dilihat dari fenomena di atas, bergosip bukan tentang membicarakan keburukan orang, tapi lebih kepada manajemen reputasi.

Berdasarkan kajian biologi evolusioner yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan di bidang linguistik, antropologi, psikologi, dan neurosains modern, salah satu fungsi bahasa yang paling fundamental adalah sebagai instrumen untuk bergosip.

Hasil survei menunjukkan bahwa minimal dua pertiga isi pembicaraan orang pada umumnya adalah tentang gosip.

Tentang siapa sedang melakukan apa, mengapa, dan bagaimana; bagaimana cara menghadapi suami, istri, atau anak yang rewel; mengapa tetangga suka memukuli anaknya; apa yang sedang dilakukan si Bejo sekarang, mengapa ia putus dengan pacarnya; mengapa si Trimbil tidak melunasi hutangnya meski hanya 200 ribu dan seterusnya.

Lain kali Anda duduk di kafe, cobalah menguping pembicaraan orang yang ada di dekat Anda, saya berani bertaruh kalau apa yang sedang mereka perbincangkan adalah tentang orang lain, entah tetangganya, sahabatnya, orang tuanya, mertuanya, atau tokoh publik, mulai dari presiden, pejabat, jenderal militer, gubernur, sampai satpam kompleks.

Topik-topik pembicaraan seputar ideologi politik, teori ilmiah, masalah teknis pekerjaan, analisis matematis dan hal-hal “impersonal” lain umunya hanya menempati maksimal seperempat dari isi perbincangan orang sehari-hari. Dunia kita berputar di sekitar gosip.

Demikian juga dengan berita-berita di media massa, mulai televisi, surat kabar, internet, penuh dengan gosip. Hasil survei menunjukkan bahwa jenis buku atau majalah yang laku keras adalah novel fiksi, terutama fiksi romansa, yang banyak membahas tentang hubungan antar manusia dengan segala deskripsi emosional yang ada di dalamnya.

Sementara di antara buku-buku non-fiksi yang paling laris adalah buku tentang biografi. Biografi orang-orang terkenal mulai dari presiden, pengusaha, sampai ke pemuka agama. Semua berbicara tentang orang lain. Untuk majalah sekelas Times saja menyediakan sedikitnya 45% halamannya untuk membahas berbagai tokoh publik dan kiprah mereka. Itu gosip.

Mengapa kita begitu menggemari, atau bahkan kecanduan, gosip? Mengapa kita begitu terperanjat untuk mengetahui siapa sedang berkelahi dengan siapa? Keributan orang bagaikan magnet bagi otak kita. Aku akan mencoba membahasnya besok di Club House dari sudut pandang evolusi sosiobiologi.

Sumber: Hendy Wijaya