Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsep Diri

Agaknya menjadi susah bagi orang untuk memahami bahwa konsep diri sejati itu hanyalah ilusi.

Semalam ketika membahas bahwa konsep diri itu hanyalah sebuah ilusi dengan mendiskusikan kasus Charles Whitman dari AS di tahun 1966 (aku akan bahas nanti di postingan lain), istriku masih bingung bahwa apa yang disebut dengan diri atau ‘self’ sebenarnya adalah ilusi semata. Lalu siapa yang kita sebut diri kita kalau semua itu hanya ilusi?

Kata ilusi di sini sebenarnya bukan mengacu ke tubuh fisik kita tempat konsep diri itu bernaung, tapi mengacu pada konsep abstrak tentang diri dalam benak kita. Tubuh fisik orang bisa saja rusak sampai susah dikenali, namun ‘diri’ mereka tetap dipersepsikan sama.

Selama ini kita berpikir bahwa ‘diri’ kita adalah sesuatu yang tunggal nan utuh. The unity of self. Faktanya, banyak hasil studi di bidang neurosains, psikologi, dan genetika perilaku yang menyanggah konsep itu. Konsep kita tentang diri sangat ditentukan oleh lingkungan sosial tempat kita hidup dan juga memori-memori kita. 

Kita berpikir bahwa diri kita adalah orang yang sabar dan penuh pengertian karena kita berpikir bahwa lingkungan sosial kita memahami diri kita seperti itu. ‘Sabar’ dan ‘penuh pengertian’ bukan sebuah karakter yang bisa berdiri sendiri terlepas dari kehidupan sosial.

Orang yang tinggal sendirian di dalam goa atau hutan tanpa interaksi sosial dengan siapapun tidak akan mempunyai konsep diri yang sabar dan penuh pengertian.

Kita memerlukan individu lain untuk merefleksikan konsep tentang siapa ‘diri’ kita dalam benak kita dan di mana tempat kita dalam lansekap sosial.

Seperti air memerlukan wadah agar kita bisa mengatakan seperti apa bentuknya. Tanpa wadah itu, kita tidak bisa mengatakan bagaimana bentuk fisik air. 

Itulah sebabnya mengapa status sosial itu begitu penting bagi hampir semua orang, sebab hal itu merefleksikan diri mereka dalam benak mereka sendiri. Sebagian orang rela melakukan apapun, di luar nalar sekalipun, untuk meraih status itu, demi menciptakan ilusi diri dalam kehidupan sosial.

Sama seperti kata Charles Horton Cooley, seorang sosiolog AS tahun 1902, “Kita adalah apa yang kira-kira dipikirkan orang tentang diri kita” ( We are what we think that others think we are). Konsep ini disebut dengan istilah “the looking glass self”.

Nah, sebagaimana lingkungan sosial yang dinamis ikut menentukan fluiditas konsep ‘diri’, demikian juga memori dalam benak kita.

Kalau sebagian apa yang mendefinisikan diri kita adalah memori-memori tentang masa lalu kita, prestasi-prestasi kita di masa lalu, kekuasaan kita di masa lalu, kedudukan yang kita peroleh di masa lalu, apa saja yang kita raih, kita punyai, dan kita lakukan di masa lalu, maka perubahan atau distorsi memori tentang masa lalu kita akan mendistorsi pula konsep tentang diri kita.

Tapi benarkah bahwa memori tentang masa lalu di otak kita bisa dimodifikasi? 

Hasil studi eksperimen seorang psikolog Elizabeth Loftus membuktikan hal itu. Ia mengumpulkan subyek orang dewasa muda lalu menyuruh mereka menonton sebuah rekaman kecelakaan mobil di sebuah perempatan jalan.

Setelah selesai menonton rekaman itu, Loftus melontarkan pertanyaan “Apakah mobil berwarna putih melanggar lampu lalu lintas dan menyebabkan kecelakaan?” Semua orang menjawab dengan benar bahwa tidak ada mobil berwarna putih dalam kecelakaan itu dan memang itu faktanya.

Namun, setelah beberapa minggu berselang, ketika orang-orang dewasa yang sama ini diminta menceritakan kembali apa yang mereka lihat di dalam video rekaman beberapa minggu sebelumnya, sebagian besar di antara mereka mengatakan bahwa mereka melihat ada mobil putih melanggar lampu lalu lintas dan menyebabkan kecelakaan.

Loftus menunjukkan bahwa dengan hanya melontarkan pertanyaan tentang mobil putih, kini memori tentang mobil putih sudah tertanam di dalam memori subyek. Memori tentang rekaman itu “terkontaminasi” oleh memori tentang pertanyaan yang dilontarkan setelah menonton rekaman.

Memori otak kita tidak disimpan seperti data yang tersimpan dalam folder-folder komputer yang tertata rapi. Proses penyimpanan dan pengolahan memori dalam otak kita lebih mirip seperti tumpukan daun kompos.

Memori yang lama menentukan cara kita menginterpretasikan dunia sekitar yang tertangkap panca indera, lalu memori itu mengalami modifikasi oleh pengalaman yang baru kita dapatkan. Memori-memori baru selalu menumpuk dan merombak kembali memori lama. 

Persis sepeti tumpukan daun kompos yang berubah terus lapisan demi lapisan seiring bertambah banyaknya tumpukan dengan berjalannya waktu.

Sementara hasil studi eksperimen Loftus lain yang serupa mengkonfirmasi model di atas. Studinya membuktikan lebih jauh bahwa kita bisa “menanamkan” memori apapun ke dalam benak anak-anak.

Dengan hanya mengatakan bahwa mereka dulu pernah tersesat sendirian di dalam sebuah mall, setelah beberapa saat anak-anak itu tiba-tiba bisa menceritakan bagaimana pengalaman mereka ketika tersesat di sebuah mall dengan rinci seolah kejadian itu nyata. 

Orang-orang yang mengalami amnesia retrograde adalah bukti lain tentang peran pentingnya memori untuk membentuk konsep tentang diri. Contoh yang sangat apik dipaparkan dalam sebuah trilogi film Hollywood, Bourne.

Jason Bourne adalah seorang agen rahasia AS yang mengalami amnesia, dia tidak ingat apapun tentang identitas dirinya sendiri, apa jabatannya, apa tugasnya, dan dari mana dirinya berasal selain dari apa yang tertera di paspornya.

Hilangnya memori tentang masa lalu menyebabkan Jason Bourne menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Bourne yang awalnya adalah seorang agen rahasia yang menuruti apapun perintah atasan, menjadi seorang pembelot yang membahayakan institusinya. 

Kalau memori bisa dimanipulasi atau dimodifikasi, sedangkan memori itu menentukan sebagian tentang siapa diri kita, maka sebenarnya siapa diri kita sejatinya? Tidak ada. Semua itu ilusi.

Singkatnya kalau diformulasikan ke dalam sebuah persamaan matematis, maka

Konsep diri = refleksi lingkungan sosial + memori tentang kejadian di masa lampau

Kalau masing-masing variabel, yaitu refleksi lingkungan sosial yang berubah seiring dinamika sosial dan memori yang senantiasa berubah oleh karena proses modifikasi (secara keseluruhan disebut konfabulasi memori), maka apa yang kita sebut diri atau ‘self’ juga senantiasa berubah setiap saatnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau konsep tentang diri adalah sebuah ilusi, di mana letak kehendak bebas?