Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsep diri muncul di dalam benak kita

Untuk bisa memahami bagaimana konsep diri muncul di dalam benak kita sebagai hasil dari interaksi sosial, kita harus memahami dulu apa yang disebut dengan proses “mentalizing”.

Proses mentalizing adalah proses pelekatan atribut-atribut mental seperti pikiran dan kehendak kepada obyek-obyek tertentu yang kita jumpai di lingkungan sekitar. Saat kita melihat inividu dengan gerak-geriknya, otak kita secara otomatis melekatkan kehendak kepada  individu yang bersangkutan.

Kita bisa menerka apa yang ada di benak mereka, ada yang ingin mereka lakukan atau raih, dan bagaimana perasaan kita kalau diri kita menjadi mereka. Proses mentalizing seperti ini yang membuat kita bisa merasakan empati atau memberikan kesempatan untuk memanipulasi pikiran individu lain entah ke arah yang positif atau negatif.


Misal, ketika kita melihat ada seekor kucing yang melomat-lompat dengan kaki belakangnya sedangkan kaki depannya berusaha meraih ikan di atas meja, kita tahu bahwa si kucing sedang berusaha meraih ikan itu.

Kita juga tahu dia pasti sedang lapar meski dia tidak mengucapkannya menggunakan bahasa verbal yang bisa kita pahami. Kita bisa berpikir bahwa si kucing sedang berusaha mearih makanan karena lapar. 

Sejak bayi kita sudah bisa menerka kehendak atau intensi obyek-obyek di sekitar kita dengan mudah berdasarkan perilaku yang mereka tunjukkan.

Seorang bayi yang belum bisa bicara pun sudah bisa membedakan mana individu yang baik, dan mana yang jahat berdasarkan intensi mereka hanya dengan melihat perilakunya.

Ketika kepada mereka ditunjukkan sebuah simulasi obyek seperti manusia yang berusaha mendorong bola ke atas bukit sementara ada obyek lain yang berusaha mengahalangi usaha obyek yang pertama, bayi memaknai obyek yang menghalangi sebagai individu yang jahat dam tak layak diajak bermain. 

Bayi-bayi itu akan lebih cenderung memilih bermain bersama obyek yang pertama daripada obyek kedua. Ini lah yang disebut sebagai proses mentalizing. Otak kita secara spontan memaknai obyek-obyek yang memiliki wajah dan berperilaku tertentu sebagai obyek yang memiliki kehendak dan pikirannya sendiri. Entah jahat atau baik.

Perangkat pikir seperti ini adalah perangkat dasar yang harus dimiliki makhluk sebelum mereka mengarungi lansekap sosialnya serta membuat “peta” sosial tentang siapa yang jahat, baik, bisa dibujuk, bisa didekati, layak dijadikan sekutu, sahabat, atau sebaliknya, layak diperalat, dikorbankan, dijauhi, atau dikucilkan.

Kemampuan otak kita dalam melakukan mentalizing ini rumit namun bisa diukur. Kita bisa merefleksikan intensi itu menjadi berlipat seperti cermin yang saling berhadapan memantulkan bayangan berulang kali. Ambilah contoh sepenggal dialog dalam sebuah kisah romansa ini,

Jack adalah seorang pria paruh baya yang sudah berpacaran dengan Jane sejak enam tahun lalu. Suatu hari Jack berkata kepada Jane, “Tampaknya kita tidak bisa meneruskan hubungan kita ini. Aku ingin putus”. Jane, dengan raut wajah yang sedikit kaget menimpali, “Siapa wanita itu?”, Mendengar jawaban Jane, Jack kaget bukan main.

Ketika membaca anekdot di atas, otak kita bisa dengan mudah melakukan proses mentalizing berlipat. Kita bisa menduga bahwa Jane tahu kalau Jack menyembunyikan sesuatu dari diri Jane. Tahukah Anda ada berapa lipat proses mentalizing yang dilakukan otak Anda dengan spontan? Lima kali. Begini penjabarannya:

Kita berpikir (1) bahwa si Jane berpikir (2) bahwa si Jack berpikir (3) kalau Jane tidak tahu (4) bahwa si Jack menyembunyikan sesuatu dari Jane (5).

Proses mentalizing reflektif berlipat inilah yang membuat otak manusia itu unik bin canggih. Hewan mamalia lain umumnya hanya berhenti di proses mentalizing lipat dua. Mereka hanya bisa berpikir (1) tentang apa yang dipikirkan (2) makhluk lain tentang obyek tak berkehendak di luar sana. Anjing misalnya, ia sudah bisa menduga apa yang diinginkan majikannya ketika majikannya berusaha meraih benda yang terjatuh dari genggamannya.

Mereka bisa berpikir apa yang diinginkan majikannya terhadap benda itu. Tapi umumnya mereka tidak bisa berpikir (1) tentang apa yang dipikirkan (2) majikan mereka tentang pikiran mereka sendiri (3) atau pikiran-pikiran individu lain. Itu sudah proses mentalizing lipat tiga.

Tanpa kemampuan mentalizing yang reflektif berlipat, anjing tidak bisa berbohong, berperilaku licik, selicik manusia atau membuat rencana jangka panjang yang melibatkan banyak individu lain. Kemampuan mereka memanipulasi pikiran majikannya sangat terbatas.

Singkat cerita, anjing tidak bisa berbohong sehebat kita sebab mereka tidak bisa ‘membaca’ pikiran individu lain secanggih otak kita ‘membaca’ pikiran inidividu lain. Anak-anak mulai menunjukkan kemampuan mentalizing yang berlipat ketika mereka sudah mulai bisa bermain menjadi “dalang’’. Untuk bisa “ndalang” orang perlu kemampuan mentalizing reflektif berlipat. 

Berdasarkan studi, hanya ada beberapa makhluk mamalia yang bisa melakukan proses mentalizing lipat tiga dan mungkin empat, yaitu kera seperti Simpanse dan Gorilla. Sementara kita manusia bisa melakukan proses mentalizing sampai lipat enam dan tujuh meski dalam kehidupan sehari-hari, ketika menggibah orang lain misalnya, kita rata-rata melakukannya sampai lipat tiga dan empat. 

Kemampuan untuk menyusun rencana jangka panjang melibatkan kemampuan mentalizing lipat empat ke atas sebab melibatkan banyak orang dengan berbagai kepentingannya sendiri-sendiri.

Untuk bisa mencapai tujuan yang kita inginkan, kita memerlukan kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang diinginkan masing-masing orang, bagaimana perasaan mereka, apa saja yang bisa kita lakukan untuk memuaskan keinginan mereka sementara kehendak kita sendiri juga tercapai.

Untuk bisa menjabarkan keinginan masing-masing individu kita perlu menyelami pikiran mereka, mensimulasikan kehendak-kehendak dan perasaan mereka dalam benak kita, lalu mencoba memberinya intervensi dan mensimulasikan kembali hasilnya sembari mengamati atau mengevaluasi perasaan kita sendiri terhadap hasil itu.

Sumber: hendy.wijaya.180