Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kelistrikan pada area prefrontal otak (Prefrontal Cortex, PFC)

Di postingan yang lalu aku membahas bahwa kecenderungan seseorang untuk berperilaku psikopatik itu tergantung pada pola kelistrikan pada area prefrontal otak (Prefrontal Cortex, PFC). Mereka yang memiliki sistem PFC yang berkembang baik dalam artian memiliki kemampuan ‘inhibisi’, atau menghambat naluri dasar yang buruk, akan cenderung memiliki konformitas sosial yang baik.

Apa yang dihambat oleh PFC sebenarnya?

Perilaku naluriah ‘reptil’ seperti makan, buang air, berkembang biak, menyerang ketika marah, dan lain sebagainya. Mereka dengan PFC yang berkembang baik umumnya memiliki pembawaan  yang ‘sociable’. Mereka bukan tidak mampu berbuat jahat, tapi mampu menghambat atau menekan naluri reptilnya.

Kemampuan menekan naluri ini berkembang baik pada makhluk hidup sosial. Agar bisa berkumpul membentuk komunitas sosial yang mampu hidup berdampingan menghindari pemangsa dan bekerja sama mencari makanan secara efektif, mereka perlu menekan kecenderungan naluriahnya demi keuntungan individuil. 


Evolusi serigala menjadi anjing puluhan ribu tahun lalu adalah contoh nyata bagaimana makhluk hidup liar berubah menjadi jinak dan mampu bersosialisasi dengan manusia. Otak anjing berbeda dengan otak serigala, pun cara mereka berpikir juga berbeda dengan cara serigala berpikir.

Anjing lebih pandai membaca mimik wajah manusia dan mengenali emosi majikannya daripada serigala. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, anjing sangat bergantung pada majikannya untuk membantunya memecahkan masalah itu. Serigala tidak.

Dengan demikian anjing lebih ’sociable’ daripada serigala, makhluk yang mewakili nenek moyangnya. Anjing bukan tidak punya naluri-naluri pemangsa dan liar seperti serigala, tapi otak mereka mampu untuk menekan naluri itu agar bisa hidup berdampingan dengan manusia. 

Mereka melakukannya bukan karena kehendaknya, tapi karena anjing yang jinak mampu hidup berdampingan dengan manusia lebih mungkin bertahan hidup lebih lama dan mewariskan keturunannya lebih banyak daripada mereka yang liar sehingga tidak mampu hidup berdampingan dengan manusia. 

“Ah, itu kan di anjing. kalau manusia ya beda lah. Manusia kan punya kehendak bebas. Jadi, mereka yang baik ya memang berarti tidak punya pikiran jahat yang beremayam dalam benaknya.” 

Benarkah begitu?

Salah studi kontroversial di bidang psikologi pernah dilakukan oleh Dan Ariely, seorang Profesor Psikologi dari Duke University, AS, untuk membuktikan hal itu. Ariely mengumpulkan para pria sebagai subyek. Pertama, Ia melontarkan pertanyaan nyeleneh seputar seks kepada pria-pria itu. Misalnya, apakah mereka mau berhubungan seksual tanpa kondom dengan wanita tak dikenal? Apakah mereka mau terlibat dalam aktivitas seksual sado-masokisme?

Apakah mereka mau terlibat dalam sebuah ‘orgy’ (aktivitas seksual bersama-sama dengan sekelompok pasangan)? Apakah mereka mau melakukan aktivitas seksual pada orang yang tidak mereka sukai? Apakah mereka mau melakukan hubungan seksual dengan paksaan dan kekerasan? Apakah mereka mau membius wanita agar bisa bersetubuh dengannya?

Dalam kondisi normal, semua subyeknya menjawan tidak dengan tegas. Mereka orang terhormat dan beradab. Mereka punya standar moral dan perilaku terhadap wanita. Mereka tidak punya pikiran jahat. Bukan begitu? 


Di tahap kedua penelitiannya, Ariely memberi mereka masing-masing majalah playboy beserta sebuah laptop, meminta mereka melakukan masturbasi sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti di atas secara online. Apakah hasilnya konsisten? 

Hasil studinya mengerikan. Para pria subyeknya berubah menjadi monster ketika dalam kondisi terangsang secara seksual. Kecenderungan mereka meningkat dua kali  lipat untuk melakukan hubungan seksual yang menyimpang. Dan yang lebih mengkhawatirkannya lagi, kecenderungan mereka untuk bersedia membius wanita agar bisa menyetubuhinya menignkat empat kali lipat dibandingkan kalau mereka tidak terangsang.

Hasil studi Ariely membuktikan bahwa naluri reptil manusia tidak pernah hilang mau seberapa baik dan ‘sociable’ dirinya. Perbedaan antar masing-masing pria terletak pada kemampuan PFC untuk menekan pikiran atau perilaku reptil itu agar tidak muncul dalam kehidupan sosial. Sekalinya pikiran reptil itu mengambil alih, maka sosok diri yang awalnya berada di puncak menara gading moralitas, nyemplung ke dalam jurang immoralitas dengan cepat. Seolah mereka bukan dirinya lagi. Di mana kehendak bebasnya?

Hasil studinya ini tampaknya membenarkan ajaran agama tertentu tentang kecenderungan pria untuk melakukan kekerasa seksual ketika terangsang sehingga wanita harus senantiasa melindungi dirinya dengan menutupi tubuhnya, namun sekaligus menjejalinya dengan suatu kontradiksi.

Kalau memang kecenderungan alamiah pria seperti itu, di mana kehendak bebasnya? Mengapa ia harus bertanggungjawab terhadap perilaku di luar kehendaknya, baik di dunia riil maupun spiritual?