Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehendak Bebas Manusia (bayi Storm)

Tampaknya masih banyak di antara kita yang belum paham bahwa sebenarnya kita tidak memiliki kehendak bebas. Kalau kita tidak memiliki kehendak bebas, lalu siapa yang mengendalikan anggota tubuh kita atau siapa yang berkuasa atas tubuh kita?

Setiap pagi kita terbangun dari tidur lelap kita di malam hari, mematikan suara alarm di hape, pergi ke kamar mandi untuk buang air, ke dapur untuk mengambil segelas air untuk diminum, siapa yang menggerakkan tubuh kita itu?

Foto di bawah adalah bayi Storm (baju merah) bersama kakaknya, Jazz.

Oh iya, tentu kita memiliki kehendak. Tanpa kehendak tubuh kita tidak akan bergerak. Impuls elektrik yang merepresentasikan kehendak selalu terbentuk di dalam otak kita mendahului impuls elektrik penyebab kontraksi otot pada kaki dan tangan.

Tanpa adanya impuls elektrik yang kita sebut sebagai kehendak, kita tak lebih daripada sayuran. Tapi, sadarkah kita bahwa kehendak itu tidak bebas. Semua kehendak kita didikte oleh faktor internal berupa memori kita di masa lalu, prekonsepsi-prekonsepsi bawaan yang terbentuk dalam benak sejak kecil, atau emosi-emosi kita, dan faktor eksternal berupa situasi sosial. 

Saat dihadapkan pada suatu situasi yang memerlukan sebuah keputusan, otak kita di luar kesadaran atau secara spontan telah mengkalkulasi semua kemungkinan tindakan yang kita ambil beserta risikonya berdasarkan memori, emosi, dan prekonsepsi dan menyajikannya kepada alam sadar kita. Opsi yang dipilih otak kita sangat bergantung pada situasi tempat kita berada.

Kita menyadari berbagai pilihan itu muncul di dalam benak kita tidak berarti bahwa kita menciptakan opsi itu secara sadar. Kita hanya menyadari bahwa ia ada di sana. Pun keputusan untuk memilih opsi yang ada itu bukan pula kehendak kita.

Lima menit sejak kita lahir, orang-orang di sekeliling kita sudah melekatkan atribut gender, agama, sekte, suku atau kebangsaan pada diri kita, melatih kita untuk bertingkah laku sesuai budaya setempat dan membela sampai mati segala sesuatu yang tidak pernah kita pilih dengan bebas sejak awal. 

Ada suatu kejadian menarik masalah identitas bayi ini. Sepasang kekasih dari Toronto, Kanada, Kathy Witherick dan David Stocker baru saja mempunyai seorang bayi yang mereka namai Storm pada tahun 2011.

Mereka berdua sepakat akan berusaha membesarkan bayi mereka dalam lingkungan dengan gender netral dengan tidak mengumumkan kepada siapapun, termasuk keluarga orangtua dan saudara-saudara mereka apa jenis kelamin Storm.

Hal itu mengundang kehebohan pada lingkungan pergaulan mereka. Saudara dan teman-temannya bingung bagaimana mereka harus memperlakukan Storm? Baju dengan warna apa yang harus mereka hadiahkan kepada Storm? Mainan apa yang harus mereka berikan? Boneka Barbie atau Robot? 

Ketika kita berbicara jenis kelamin, kita tahu bahwa jenis kelamin sepenuhnya ditentukan oleh faktor biologis, yaitu gen-gen yang berada pada komosom X dan Y. Lain perkara saat kita berbicara mengenai gender. Gender tidak semata bersifat biologis.

Gender lebih kepada profil psikologis orang yang merupakan hasil konsensus sosial. Atau dengan kata lain, gender adalah atribut sosial budaya yang disematkan suatu komunitas kepada individu sejak ia lahir. 

Memang tampaknya ada kaitan yang erat antara jenis kelamin dengan gender. Bayi yang terlahir dengan jenis kelamin biologis laki-laki akan cenderung memiliki gender maskulin, kasus Bruce Reimer adalah bukti bahwa ada kaitan antara jenis kelamin dengan gender, namun korelasi itu bukan sesuatu yang kaku.

Jenis kelamin tidak akan menyebabkan orang suka pakai rok atau berambut cepak. Lagipula gender, seperti layaknya konsensus sosial lainnya, sifatnya dinamis mengikuti perkembangan zaman. 

Preferensi warna, misalnya, di zaman modern ini warna pink identik dengan gender feminin, sedangkan warna biru identik dengan gender maskulin. Tahukah Anda kalau 100 tahun yang lalu, hal yang sebaliknya lah yang berlaku, warna pink lebih erat dengan gender maskulin, sedangkan warna biru lekat dengan gender feminin.

Di tahun 1920, seorang pria yang memakai baju biru bisa dipandang sebagai waria. Demikian juga sepatu hak tinggi yang identik dengan karakter feminin di dunia modern, adalah lambang maskulinitas di Eropa abad ke-17.

Sejak kita lahir, identitas gender kita, beserta segala stereotip yang melekat daripadanya, misalnya perilaku feminin yang lembut atau perilaku maskulin yang enerjik, sudah dilekatkan kepada kita oleh lingkungan tanpa bisa kita tolak. Identitas gender ini kita bawa hingga dewasa, menentukan cara pikir dan perilaku kita di tengah masyarakat. Di mana kehendak yang bebas? 

Bagaimana dengan sikap rasisme? Banyak di antara kita memiliki sikap yang rasis. Cenderung melekatkan stigma-stigma buruk pada diri orang berdasarkan latar belakang ras, etnis, atau suku mereka.

Orang yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang membenci etnis Tionghoa atau Yahudi, misalnya, akan cenderung mengadopsi nilai-nilai kebencian itu begitu saja tanpa ada pengalaman riil apapun yang berkaitan dengannya.

Sikap itu pada akhirnya menentukan cara pikir dan perilaku kita di masyarakat meski terdapat berjibun fakta yang mengatakan bahwa stigma itu tidak benar. Di mana kehendak yang bebas? 

Untuk sekadar duduk di atas bantal, aku rasa tidak banyak di antara kita yang bisa dengan tenang melakukannya setelah sejak kecil mendapatkan ‘indoktrinasi’ kalau menduduki bantal akan menyebabkan penyakit bisul.

Emosi Anda berupa rasa takut bisulan mencegah Anda menduduki bantal itu meski diri Anda yang sama tahu bahwa hal itu tidak benar. Berdasarkan prinsip Hamilton dalam evolusi perilaku, kalau risiko melakukan suatu hal lebih tinggi daripada risiko yang harus dibayarkan saat tidak melakukannya, maka orang akan memilih tidak melakukannya.

Tidak menduduki bantal risikonya lebih kecil daripada menduduki bantal dengan risiko bisulan. Otak Anda sudah melakukan kalkulasi seperti itu dan mengambil keputusannya untuk Anda, berdasarkan prekonsepsi tentang bisulan sejak kecil, secara spontan di luar kehendak bebas.

Otak Anda yang memutuskannya secara spontan, Anda hanya menyadari atau merasakan prosesnya tapi sesungguhnya tidak berkuasa atas hal itu. Rasanya mirip seperti Anda sedang naik kereta. Anda sadar bahwa kereta sedang bergerak dan ke arah mana Anda pergi, tapi Anda bukanlah yang mengendalikan kereta itu. 

Sebenarnya, ada banyak sekali contoh deskripsi perilaku manusia yang mengisyaratkan ketiadaan kehendak yang bebas. Semua pola pikir dan perilaku kita didikte oleh kecenderungan emosi warisan nenek moyang, memori sejak kecil, dan situasi sosial tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Kehendak yang bebas itu adalah ilusi. 

Pertanyaannya adalah untuk apa otak menciptakan ilusi bahwa kita memegang kendali atas semua kehendak kita?