Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Eksperimen "Delayed Gratification" pada Anak.

Bruce M. Hood, seorang profesor di bidang psikologi perkembangan dari Inggris, bersama dengan timnya pernah melakukan studi perilaku anak-anak pra sekolah.

Hood merekrut beberapa anak pra-sekolah berusia empat tahun, meletakkannya di dalam ruang observasi dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan suatu hadiah.

Namun hadiah tersebut akan dibungkus dengan kertas kado terlebih dahulu. Selama membungkus hadiah tersebut si anak diminta untuk membalikkan badannya dan tidak boleh mengintip prosesnya. Kalau mereka mengintip, maka hadiah tidak jadi diberikan.

Di tengah proses membungkus kado, si pembungkus, yang memang anggota tim peneliti, segaja mengatakan kepada si anak bahwa ia akan pergi keluar ruangan sebentar untuk mengambil gunting. Si anak dibiarkan sendirian di dalam ruangan observasi sambil membelakangi hadiah yang dijanjikan kepadanya.

Di ruangan itu terdapat kaca observasi searah yang terhubung dengan ruangan di sampingnya tempat para peneliti mengamati perilaku anak.

Ada dua perilaku anak yang bisa diprediksi, mereka yang tetap menaati peraturan dengan tidak mengintip hadiah yang bakal diberikan kepadanya, dan mereka yang melanggar peraturan dengan mengintip hadiah ketika merasa tidak ada orang lain yang mengawasinya. 

Sebagian anak memang megintip ketika merasa tidak diawasi, sedangkan sebagian lain tetap diam. 

Ketika kedua kelompok anak ini diikuti selama dua puluh tahun ke depan, mereka yang bisa menahan diri untuk tidak mengintip demi mendapatkan hadiah ternyata cenderung menjadi indiividu yang sukses dalam kehidupan sosial.

Mereka cenderung memiliki banyak teman dan pandai mengelola emosi. Sebaliknya mereka yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip cenderung menjadi individu dewasa yang kurang sukses dalam kehidupan sosial. Mereka cenderung impulsif, emosional, dan beberapa di antarnya bahkan menjadi pecandu narkoba. 

Apa interpretasi hasil studi Hood? 

Kesimpulannya sederhana, jika kita bisa mengatur dan mengendalikan impuls-impuls kecil dalam benak kita, kita cenderung menjadi orang yang lebih sabar saat memecahkan segala permasalahan, tidak mudah bosan, dan cenderung lebih mampu menahan godaan.

Orang-orang seperti ini cenderung tidak egois ketika berhadapan dengan orang lain, dan oleh sebab itu mudah diterima dalam komunitas sosial manapun. Ketika kita berinteraksi sosial dengan orang lain, ada kalanya interaksi itu berujung pada konflik yang memerlukan sebuah solusi.

Mereka yang mampu menahan diri dan sabar cenderung lebih mudah menemukan solusi bersama. Tanpa kemampuan seperti itu, lebih mungkin kita berakhir menjadi individu yang antisosial. 

Kemampuan menahan diri berkaitan erat dengan kapasitas bagian otak yang disebut dengan Prefrontal Cortex (PFC). Salah satu fungsi utama PFC adalah untuk memilah-milah berbagai macam impuls yang akhirnya terekspresi menjadi perilaku sementara menghambat impuls-impuls lain agar tidak terekspresi.

Tanpa kendali eksekutif PFC, kita akan berakhir menjadi ‘budak’ naluri yang impulsif, fokus kita mudah terpecah, tidak mampu meraih tujuan dalam jangka panjang, dan berakhir senantiasa menyabotase diri sendiri dalam usahanya untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. 

Anak-anak dengan gangguan perilaku hiperaktif adalah contoh nyata dari penurunan kapasitas PFC. Mereka kehilangan kendali atas diri mereka sendiri. Segala impuls dari pikiran mereka terekspresi begitu saja menjadi perilaku tanpa filter PFC. 

Eksperimen "Delayed Gratification" pada Anak

Mereka tidak mampu mengkonsentrasikan pikiran demi mengerjakan sesuatu. Dalam berinteraksi sosial, mereka susah membangun hubungan emosional dengan temannya, sebab pertemanan memerlukan komunikasi yang terfokus. 

Hal ini menjelaskan juga mengapa mereka yang mabuk alkohol berakhir menunjukkan perilaku yang impulsif, sebab bagian PFC otak adalah bagian yang sensitif terhadap hambatan alkohol. 

Penelitian lebih jauh juga menunjukkan bahwa anak-anak yang berhasil menahan dirinya tidak menahan diri dengan berdiri diam saja, mereka melakukan sesuatu yang lain. Ada yang memainkan jari-jarinya, dan ada pula yang bernyanyi. 

Mereka berusaha menyibukkan diri agar dorongannya untuk mengintip menjadi teralihkan. Faktanya, mengalihkan pikiran adalah salah satu strategi kunci dalam melatih kemampuan menahan diri. 

Kita bisa melatih anak-anak kita untuk mengalihkan pikiran mereka manakala dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak patut muncul dalam benak mereka. 

Artinya, kendali-diri adalah sesuatu yang bisa dilatih, bukan dipaksakan. Hasil studi menunjukkan bahwa justru anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang terlalu keras cenderung berakhir menjadi anak-anak yang sangat tidak mampu menahan dirinya. 

Mereka gagal menginternalisasi kemampuan menahan diri itu sebab tidak memiliki kesempatan untuk belajar menahan diri secara mandiri sejak kecil, pun tidak tahu caranya. 

Pengetahuan seperti ini seharusnya menjadi pengetahuan dasar para calon orangtua di luar sana sebelum memutuskan melahirkan anak, supaya anak-anak mereka tidak berakhir menjadi limbah kehidupan sosial saat dewasa.

Sayangnya kalau melihat begitu banyaknya pejabat dan anggota masyarakat kita yang korup atau mahasiswa yang demen menyontek, sepertinya ada banyak orang inkompeten menjadi orangtua di luar sana.

Sumber: Hendy Wijaya