Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Gen bisa Mempengaruhi Keluarnya Perilaku psikopatik

Di postingan yang lalu, aku menjelaskan bagaimana gen bisa mempengaruhi keluarnya perilaku psikopatik pada diri seorang Bradley Waldroup.

Gen bisa memicu keluarnya perilaku psikopatik apabila kondisi lingkungan berupa pola asuh sejak kecil yang memang mendukung ekspresi dari gen yang berkaitan.


Nah pertanyaannya adalah, kalau pola asuh dapat memicu keluarnya sifat psikopatik pada mereka dengan faktor bawaan yan rentan, apakah pola asuh juga dapat menekan munculnya perilaku pada individu dengan faktor bawaan yang sama?

Atau dengan kata lain apakah pola asuh dapat mematikan kecenderungan psikopatik pada diri seseorang?

Seorang ilmuwan dan profesor neurosains, James Fallon dari University of California, AS, pernah berusaha mempelajari bagaimana pola perilaku antisosial atau psikopat pada diri seseorang muncul dengan mengamati pola kelistrikan pada otak mereka dan juga gen-gen mereka.

Dari hasil studi menggunakan mesin fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), Fallon menemukan bahwa orang-orang psikopat memiliki aktivitas kelistrikan yang rendah pada area korteks orbital, yaitu bagian dari korteks prefrtontal (PFC) yang letaknya ada di bagian atas dari bola mata kita. 

Padahal bagian otak ini disinyalir berfungsi menentukan dimensi moral dari eskspresi perilaku seseorang. Secara keseluruhan bagian PFC adalah bagian otak yang paling lama  dan paling akhir berkembang pada anak-anak. Ia berkembang mengikuti pola asuh tempat si anak dibesarkan.

Ketika Fallon meneliti hubungan antara aktivitas kelistrikan dan gen seseorang dengan perilaku psikopatik yang mereka tampilkan, Fallon menggunakan dirinya sendiri, saudara-saudara beserta teman-teman dekatnya yang berperilaku normal sebagai kelompok kontrol.

Tak disangka, Fallon menemukan bahwa dirinya sendiri ternyata memiliki aktivitas kelistrikan di korteks orbital yang rendah, sama rendahnya dengan para psikopat.

Tak hanya itu, bahkan ia memiliki “warrior gene” yang sama dengan gen para psikopat. Hal ini cukup membuat Fallon kaget setengah mati. Ia baru menyadari bahwa dirinya sendiri memiliki kecendeurngan psikopat.

Dari situ Fallon tertarik mempelajari riwayat keluarganya sendiri, dan benar saja, ia menemukan ada banyak psikopat pada silsilah keluarganya. Seorang leluhurnya, Thomas Cornell adalah seorang psikopat terkenal AS pada tahun 1667.

Cornell adalah orang pertama di AS yang ditangkap dan diadili atas kasus pembunuhan ibu kandungnya sendiri. Kalau dirunut lebih teliti lagi, ada total tujuh pembunuh dalam riwayat keluarga Fallon.

Fallon lahir dari keluarga besar psikopat! Kalau Fallon memiliki gen dan otak psikopat bukannya ia seharusnya menjadi seorang psikopat juga?

Bahkan Fallon sendiri sebenarnya adalah penganut teori determinisme genetik yang menyatakan bahwa gen adalah pemain utama dan mungkin satu-satunya yang menentukan perilaku individu, dalam hal ini perilaku antisosial. Temuannya telah mematahkan dugaannya sendiri. 

Fallon menyadari bahwa ia tidak menjadi psikopat seperti para leluhurnya, karena sejak awal ia terlahir dalam lingkungan yang tidak mendukungnya untuk menjadi psikopat.

Fallon terlahir dari seorang ibu yang telah mengalami keguguran empat kali. Ibunya baru mengandung James Fallon lama setelah kegugurannya yang ke empat.

Oleh sebab itu, James Fallon diperlakukan sebagai anak yang sungguh dinanti-nantikan orangtuanya, mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orangtua dan keluarganya. Fallon mengakui bahwa mungkin pola asuh yang ia terima berpengaruh signifikan dalam menekan kecendeurngan psikopatnya. 

Namun di sisi sebaliknya, meskipun Fallon terhindar dari segala perilaku kriminal, ia masih menyadari bahwa dirinya memiliki kecenderungan perilaku antisosial. Alih-alih sebagai seorang individu yang hangat, Fallon dikenal kawan-kawannya sebagai seorang yang berwatak dingin dan susah membangun koneksi emosional dengan orang lain.

Ia seringkali tampak tidak peduli dengan orang lain, terutama kepada mereka yang dekat dengannya. Dengan deskripsi karakter seperti itu, Fallon bisa jadi seorang “borderline” psikopat. Pola asuhnya sejak kecil yang menyelamatkan dirinya agar tidak berakhir terejrumus menjadi seorang pembunuh atau pemerkosa.

Sumber: Hendy Wijaya