Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal-usul penghormatan lansia perspektif biologi-antropologis

Sebelum membahas mengapa modernisasi tampak tidak kompatibel dengan kehidupan tradisional lansia, mari kita bahas dulu apa peran orang lansia di kehidupan masyarakat primitif. 

Di beberapa masyarakat tradisional, orang lansia mendapatkan status sosial yang tinggi. Mereka umumnya menjadi tetua suku, dukun pengobatan, atau guru. Dalam kehidupan keluarga mereka juga memainkan peran yang penting.



Apa saja jasa mereka dalam kehidupan masyarakat tradisional?

Pertama, membantu meningkatkan ketahanan hidup keluarga mereka. Ketika orang lansia sudah tidak sanggup lagi berburu hewan besar, atau menggendong beban berat di punggung mereka sambil berjalan berkilo-kilometer, mereka memusatkan perhatian mereka untuk berburu hewan kecil, memasang

perangkap untuk hewan buruan, atau mengumpulkan makanan di hutan membantu anak-anak mereka. Laki-laki suku Indian Ache terus berburu dan mengumpulkan makanan sampai usia 60 tahunan, laki-laki suku !Kung, membantu anak-anak dan cucu-cucu mereka memasang perangkan untuk hewan dan mengumpulkan buah-buahan di hutan.

Perempuan lansia suku Hadza di Tanzania mengumpulkan umbi-umbian di hutan rata-rata tujuh jam sehari. Keterampilan orang dari suku-suku primitif dalam hal mencari makanan semakin meningkat seiring bertambahnya usia sampa mencapai puncaknya ketika usia 55 tahun. Keterampilan mereka diperoleh dari pengalaman.

Baca Juga: Lansia

Data hasil studi menyebutkan bahwa, semakin bertambah usia mereka, semakin banyak pengalaman yang mereka dapat, semkin efisien pula mereka menggunakan energinya dalam mencari makanan. 

Peran kedua, berkaitan dengan pembagian tugas. Meskipun anak-anak orang lansia umumnya tidak menggantungkan hidupnya kepada mereka, orang lansia dapat meningkatkan kemungkinan cucu-cucu mereka bertahan hidup dari kelaparan.

Dari sudut pandang evolusi, keberadaan kakek atau nenek dalam sebuah keluarga itu membawa keuntungan tersendiri.

Hasil analisis data statistik terhadap keluarga di Kanada abad ke-18 dan 19 menyimpulkan bahwa kemungkinan anak-anak dalam suatu keluarga bisa bertahan hidup hingga usia dewasa ditentukan sebagian oleh keberadaan kakek atau nenek.

Keberadaan kakek atau nenek dalam sebuah keluarga juga meningkatkan kecenderungan keluarga terkait untuk memiliki dua anak lebih banyak dibandingkan keluarga tanpa kakek atau nenek.

Kakek atau nenek selain membantu mencari nafkah bagi keluarga juga berperan penting dalam merawat cucu-cucu mereka saat anak-anak mereka mencari nafkah.

Orang-orang lansia dari suku !Kung kerap kali merawat cucu-cucunya ketika orangtua mereka sedang berburu atau mengumpulkan makanan berhari-hari di dalam hutan.

Selain itu, para lansia bisa membantu membuatkan perlengkapan berburu atau perkakas memasak yang dapat digunakan keluarga anak-anak mereka demi bertahan hidup.

Keterampilan mereka dalam membuat perkakas dan perlengkapan berburu semakin bertambah ketika usia mereka bertambah. 

Ketiga, orang lansia memainkan peran penting dalam transfer pengetahuan intergenerasi. Pengetahuan itu bisa dalam bentuk strategi berburu, buah-buahan yang bisa dimakan, cara beternak atau bercocoktanam yang efektif, cara memasang perangkap, cara bertahan hidup melalui bencana yang jarang sekali terjadi.

Para lansia dihormati dan dihargai statusnya pada beberapa suku primitif sebab mereka menyimpan banyak informasi berguna yang dapat meningkatkan probabilitas kelompok untuk bertahan hidup melalui kondisi bencana besar yang mungkin terjadi hanya sekali dalam masa hidup orang.

Dengan demikian, tanpa panduan dari orang lansia yang pernah mengalami masa-masa sulit bertahan hidup dalam bencana, anak-anak muda dalam suku primitif sangat mungkin tidak bisa melaluinya dengan baik. 

Ketiga peran di atas, ditambah pula dengan fakta bahwa proporsi jumlah lansia yang sangat sedikit menyebabkan mereka mendapatkan status sosial terhormat dalam kehidupan masyarakat primitif.

Tak lebih dari 20% orang dari suku !Kung yang bisa bertahan mencapai usia 60 tahun atau lebih. Mereka yang telah bertahan sampai usia itu pasti sudah banyak sekali memiliki pengalaman hidup, melewati berbagai bencana kelaparan, wabah penyakit, serbuan suku lain, atau berbagai konflik dalam suku. Mereka dianggap tahu bagaimana bertahan melalui itu semua.

Panduan hidup mereka sangat dibutuhkan generasi muda. Dari situ lah status terhormat itu didapatkan. Nilai-nilai sosial tentang penghormatan terhadap orang lansia berpangkal pada fakta tersebut.

Ajaran konfusianisme di China menekankan pentingnya menghormati dan patuh terhadap orangtua. Mengabaikan perintah orantua dianggap sebagai awal dari malapetaka.

Dalam beberapa masyarakat kuno, misal dalam tradisi Yahudi, penghormatan terhadap orangtua terpatri dalam ajaran relijius mereka.

Orang sering lupa fungsi konkret lansia dalam kehidupan primitif dan alasan konkret mengapa kita harus menghormatinya sejak awal.

Apa yang kita ketahui adalah nilai relijiusnya saja. Mereka yang tidak menghomati orangtua atau lansia, dianggap berdosa atau durhaka. 

Tapi apa dampaknya modernisasi bagi fungsi lansia di atas?

Pertama, fungsi orangtua atau lansia sebagai penyimpan informasi penting untuk bertahan hidup menjadi tidak begitu penting lagi di era informasi.

Kita semua menyimpan informasi penting di dalam buku catatan yang bisa dibaca siapapun bergenerasi-generasi setelah kita. Kita juga menyimpan informasi serta menyebarkannya melalui komputer dan internet.

Tidak jarang peredaran dan perkembangan informasi melebihi kemampuan seseorang untuk menyaring dan menyimpannya dalam ingatan. Alih-alih sebagai sumber kebjiakan, orang lansia di kehidupan modern seringkali malah ikutserta menyebarkan hoaks. Kalau anda punya grup WA keluarga, coba lihat siapa yang paling latah menyebarkan informasi tanpa filter?

Kedua, kemajuan zaman yang sedemikian pesat menyebabkan keterampilan lansia untuk bekerja semakin cepat pula ketinggalan zaman sehingga tidak lagi relevan di kehidupan modern. Terlebih jika satu-satunya keterampilan yang mereka miliki hanya berkaitan dengan pekerjaan kasar yang telah digantikan mesin.

Ketiga, nilai-nilai moral zaman modern seringkali bertabrakan dengan peran orang-orang lansia yang justeru mendapatkan status sosialnya oleh karena perannya itu.

Orang lansia di kehidupan primitif sangat dihormati sebab mereka memiliki peran yang konkret dalam meningkatkan ketahanan hidup keluarga secara keseluruhan dengan ikut membantu merawat cucu-cucu di rumah sementara anak-anak mereka bekerja mencari nafkah.

Nilai moral modern justeru ingin menegasikan peran itu dengan alasan moral tidak ingin membebani lansia.

Ditambah lagi dengan semakin menurunnya minat pasangan untuk memiliki anak, maka peran orang lansia menjadi semakin tidak bermakna di kehidupan modern. 

Keberhasilan program keluarga berencana tampaknya ikut menggerus fungsi mendasar lansia di kehidupan tradisional.

Keempat, jumlah lansia yang bertambah banyak di kehidupan modern, membawa problem baru. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah mereka meroket ribuan persen.

Dengan meningkatnya akses ke layanan kesehatan, peningkatan higiene dan sanitasi publik, dan keberhasilan program vaksinasi, semakin meningkatlah usia harapan hidup manusia. Artinya, semakin banyak orang yang bisa bertahan hidup sampai usia lanjut.

Namun sayang, laju peningkatan usia harapan hidup tidak selalu diikuti oleh laju peningkatan kualitas hidup di usia tua. Alih-alih membantu ketahanan hidup masyarakat secara keseluruhan, banyak lansia justeru berakhir membebani masyarakat.

Ambillah contoh data kependudukan di Amerika Serikat. Pada permulaan abad ke-20, jumlah angkatan kerja produktif itu 15 kali lebih banyak daripada lansia, sekarang jumlah itu menyusut hingga 3 kali lebih banyak.

Kalau dana pensiun itu ditanggung oleh negara melalui uang pajak, maka produktivitas masyarakat harus dipacu minimal 5 kali lebih tinggi untuk membayar pensiun lansia yang jumlahnya makin meningkat. Status sosial mereka sebagai kelompok yang dihormati dalam kehidupan tradisional lambat laun terdegradasi.

Dari kelompok masyarakat yang produktif, mereka berakhir menjadi kelompok masyarakat yang konsumtif. Kalau masyakat modern mulai melepaskan keinginan untuk memiliki momongan oleh sebab anak adalah kaum konsumtif yang membebani hidup, kira-kira apa yang ada di benak mereka terhadap kaum lansia yang tidak produktif lagi terlepas mau diakui secara eksplisit atau tidak?

Sekali lagi, aku tidak sedang mencari pembenaran tentang perlakuan tidak hormat yang dilakukan terhadap orang-orang lansia, aku hanya mencoba menjabarkan asal-usul tradisi penghormatan terhadap lansia dari perspektif biologi-antropologis.

Dengan mempelajarinya, aku harap aku tahu apa yang bisa aku lakukan dan persiapkan saat aku menua nanti, mengingat tidak semua lansia berakhir kehilangan status sosialnya menjadi kaum marginal. Ada banyak contoh bagaimana orang-orang lansia bisa tetap mempunyai peran yang bermakna dalam kehidupan modern.

Hal terpenting yang membuatnya demikian adalah kebijaksanaan atau kedewasaan dalam pola pikir mereka. Lagipula, di kehidupan modern di mana informasi tersedia bagi siapa saja, orang tidak dihormati semata karena dia berusia lebih tua, tapi karena kebijaksanaan yang dimilikinya.

Dengan karakter seperti itu mereka tetap bisa menjadi guru, baik secara formal atau informal, dalam kehidupan modern. Ada pepatah yang tepat untuk menggambarkan hal ini, “Jika Anda sudah tidak mampu lagi melakukannya sendiri, maka mengajarlah.”

By: https://www.facebook.com/hendy.wijaya.180