Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenapa, Harga Buku Anak Mahal.?

Beberapa bulan ini saya tidak berkunjung ke toko Gramedia, alasannya semenjak kebakaran yang menimpa Mega Mall Bengkulu. Toko Gramedia tutup. Meski tidak mengalami kebakaran secara eksklusif. Namun Gramedia mendapat efek yang cukup parah dari gedung sebelahnya yang kebakaran. Apalagi isi Gramedia telah bisa ditentukan yaitu buku-buku dan barang-barang yang gampang sekali terbakar.

Makara untuk sementara toko Gramedia tutup. Namun namanya bisnis, tidak perlu waktu terlalu usang untuk buka lagi. Akhirnya Gramedia beroperasi lagi. Namun, kali ini lokasinya pindah ke lantai atas. Berdekatan dengan bioskop 21.


Asyik juga nih, mampu baca buku dulu sembari jadwal tayang filmnya tiba. Lebih baik dihabiskan dengan basuh mata ke toko buku. Apalagi ada banyak buku yang sudah dilepas plastiknya. Kaprikornus kita mampu nebang untuk membacanya.

Pertama Kali ke Gramedia Bengkulu Usai Kebakaran

Si kakak pengen banget berbelanja diary di Gramedia. Diary ini sudah dia lihat bersama sahabat-sobat sekolahnya waktu SD itu. Hari itu mereka janjian untuk nonton bareng, Sekalian mampir ke Gramedia. Makanya kakak pengen banget beli diary itu. Sudah dilihatnya sebelumnya.

Saya diray hampir saban hari, untuk ke Gramedian. Akhirnya saya luluh. Jadilah kami ke sana, untuk berbelanja diary dan ingin membeli beberapa buku bacaan untuk dedek Annasya dan kanga Athifah .

Oh, ya sebelum saya baiklah untuk membeli diary tersebut. Saya mengajukan pertanyaan sekaligus meminta komitmen si abang untuk tekun menulis. Jawaban dia, di luar yang aku pertimbangkan.

Kaprikornus begini Me, kan kami anak pondok. Gak ada main hape. Jadi kalo ada apa-apa kami menuliskan di diary. Jadi diary ini akan menjadi daerah kami untuk juga saling curhat
Saya oke dengan pendapat itu. Namun, si abang aku berikan tugas komplemen untuk bersungguh-sungguh menuliskan pengalaman atau kegiatannya di pondok apa saja. Sebab di awal mau masuk pondok dulu, beliau bertekat ingin kalo mau akhir sekolah nanti terbit bukunya mengenai pengalaman selama di pondok, Hal ini senantiasa aku ingatkan  saya tagih.

Kami telah membeli buku khusus untuk kakak menulis apa saja ihwal kegiatannya di pondok. Sepertinya buku tersebut belum sarat diisi. Memang buku yang Abahnya belikan bukan buku Diary sih, tapi buku tulis khusus. Berbeda dengan buku sekolahnya.

Harga Buku Anak Mahal

Begitu hingga, kami langsung menuju ke rak buku bawah umur. Sedangkan si kakak, eksklusif menuju ke konter buku diary yang ia incar. Saya bebaskans aja, silakan dia menentukan.

Namun, saya hanya berpatok dengan info harga yang kakak beri tahu sebelumnya. Buku Diary tersebut dibandrol dengan harga sekitar delapan puluh ribu. Jika harga berbeda terlebih naik, maka kekurangannya si kakak yang memperbesar .

Dan...kami deal !

Kanga Athifah dan Dedek Nasya eksklusif girang begitu sampai di rak buku anak. Langsung tertawa girang dan dengan semangat eksklusif membolak - balik buku-buku.

Mereka berdua eksklusif mengincar buku dengan gambar Little Pony dan Princess. Buku belum dewasa memang senantiasa menawan. Mereka berdua asik mengobrol tentang buku yang barusan mereka liat. Gonta-ganti buku . Bahkan saling berebutan. 

Kanga Athifah telah memegang beberapa buku opsi. Dedek Nasya juga tidak inginketinggal, ia juga sibuk menentukan. Tanpa melihat isi bukunya apa. Yang penting kovernya Little Pony atau Princess diambilnya.

Saya senyum, senyum sendiri. Mereka sudah sudah biasa, setiap diajak ke toko buku senantiasa saya bebaskan untuk menentukan beberapa buku yang mereka sukai. Nanti boleh dipilih hanya tiga buku yang dikehendaki saja yang dibeli.


Sekali Lagi Harga Buku Anak Mahal

Saya mengecek satu persatu harga buku yang diseleksi oleh mereka.Waduh, tidak ada harga di bawah tiga puluh ribu. Bahkan untuk buku mewarnai saja telah di atas empat puluh ribu. Buku tematik terlebih, harganya mampu hingga di atas seratur ribu. 

Dasar Emak Baper ( Banyak Peritungan) saya pun lalu menciptakan alasan. Agar tidak jadi membeli bukunya. Sebab kalo dijumlah-hitung, mampu limaratusan lebih nih nanti kantong aku bolong.

Kaprikornus, saya ijinkan belum dewasa untuk berlama-usang menyaksikan-lihat, membaca dan mengelus buku-buku tersebut. Hampir semua rak mereka datangi. Saya pun mengikuti mereka sembari mengevaluasi harga buku dengan paket irit.

Sampai kesudahannya aku ketemu paket potongan harga, dengan kepingan sebesar tiga puluh lima ribu, dengan belanja sekurang-kurangnyaseratus lima puluh ribu. Nah, ini cukup mempesona. Beli paket diskon saja. 

Saya pun memastikan hal tersebut dengan betanya dengan karyawan toko. Ternyata cuma buku-buku anak dengan judul tertentu. Setelah diamati dengan teliti, ternyata buku-buku yang masuk daftar buku potongan harga tidak ada buku-buku yang dipilih oleh Athifah dan Nasya. Jadi batal deh beli bukunya, karena buku diskonan tersebut belum dibutuhkan oleh mereka berdua.

Saya kembali membujuk, untuk membeli buku mewarnai di toko lain saja. Mereka berdua juga baiklah, asalkan diijinkan untuk melihat-lihat mainan.

Saya tersenyum lebar...

Kakak Membeli Diary

Menunggu kakak memilih buku diary yang hendak kakak beli, saya kembali mengelilingi toko sambil basuh mata. Melihat apakah bukus aku stoknya masih ada atau bagaimana. Kemudian aku juga membaca banyak berita dan selebaran-selebaran.


Mengandalkan Cashback Untuk Beli Buku

Ternyata ada potongan tertentu dan cashback jikalau belanja dengan memakai aplikasi tertentu. Aha, ini yang menawan untuk dicoba. Saya langsung memberi tahu si kakak.

Untuk stay dan menjaga adik-adiknya. Saya mau turn dahulu, aku ingin ke ATM untuk top – up. Lumayan untuk cashabacknya mampu digunakan untuk yang lain.

Tidak begitu usang, saya telah kembali ke Gramedia. Si kakak pribadi menyerahkan resi pembayaran. Saya pun kaget. Kakak eksklusif bilang

Ada serpihan harga Me, jadi buku ini hanya enampuluh empat ribu saja. Dari harga Delapan puluh satu ribu. Sikakakn tersenyum anggun, beliau senang sekali bukunya potongan harga, jadi dia ngak perlu menambah.

Setelah itu kami masih keliling Gramedia. Namun, luas tokonya telah menyusut banyak sekali. Untuk rak dan koleksi bukunya juga semakin sedikit. Bayangkan saja. Setengah ruangan toko ini dipenuhi dengan barang-barang selain buku.

Untuk rak bukunya cuma nyaris setengahnya saja. Itu pun tidak memuat banyak kategori atau jenis buku. Yang paling banyak itu yaitu buku bawah umur. Memang menurt informasi beberapa teman, kalo penjualan buku anak tidak mengecewakan stabil.

Sedangkan kategoti buku yang lain hanpir seluruhnya mengalami penurunan. Bahkan banyak buku-buku yang terpaksa dijual dengan harga yang sangat murah. Biasanya Gramedia Bengkulu, menciptakan lokasi ekspo buku di lantai bawah. Barang yang dijual masih cantik seluruhnya. Hanya saja buku-buku lama. 

Saya betah berlama-lama di bazzar buku Gramedia. Biasanya saya akan borong aneka macam. Yah, gimana ngak borong, satu buku saja ada yang dijual dengan harga sepuluh ribu saja. Kalo belanja seratus ribu, sudah mampu sepuluh buku, bukan.

Waktu awal-permulaan sempat begong dan heran juga, kok mampu buku-buku tersebut dijual dengan harga yang sungguh murah. Apa tidak rugi?

Pertanyaan saya belum ada jawabannya waktu itu. Namun, sehabis berulang kali Grameda menggelar ekspo dan banyak gosip toko buku bahkan Gramedia tutup. Saya mulai paham. Bahwa dunia perbukuan  dan penerbitan di tanah air nyaris saja mati suri.

Penrbit juga banyak yang kolep. Yang amsih bertahan kebanyakan adlah penerbit yang memproduksi buku-buku pelajaran sekolah. Para penerbit lazimnya juga eksklusif bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Buku-buku tersebut wajib dibeli oleh akseptor latih.

Saya beharap toko Gramedia Bengkulu ini tetap buka, alasannya adalah nanti mau nyari buku dimana lagi. Meski ada banyak yang perdagangan buku secara online. Membeli buku dengan melihat, memegang dan membeli eksklusif sungguh seru.

Apalagi kalo berburu buku murah, pas rebutan, ngubek-ngubek, menghitung harga. Semua yakni pengalaman yang berguna. Belum lag kita juga bisa memegang secara langsung buku-buku yang lainnya.

Nah, kalo di kota kamu, bagaimana kabar toko bukunya? Lalu kenapa harga buku anak mahal, ada yang akan bantu jawab?

 Sumber: www.mildaini.com