Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lima Sistem Pendidikan Ala Ki Hajar Dewantara

Berikut pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara:

1. Bermain adalah tuntutan jiwa anak untuk menuju kea rah kemajuan hidup jasmani dan rohani.

Sistem pendidikan kita yang serba menuntut membuat anak-anak kehilangan masa bermainnya. Saat ini taman kanak-kanak sudah dipenuhi dengan berbagai hitungan dan hafalan yang membuat anak menjadi mudah stress. Padahal pada dasarnya, usia anak-anak saat itu adalah waktunya untuk bermain dan mengenal pada sesame serta lingkungan. Namun, taman kanak-kanak kini menjelma menjadi bangku sekolah yang membosankan dan penuh hukuman jika melakukan kesalahan.

2. Rakyat perlu diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mendapat pendidikan berkualitas sesuai kepentingan hidup kebudayaan dan kepentingan hidup kemasyarakatannya.

Hal miris yang masih terjadi saat ini adalah pendidikan yang masih belum merata. Kesempatan dan hak yang dijamin konstitusi negara belum bisa diimplementasikan dengan baik dan benar. Pasalnya masih banyak anak tidak bisa sekolah atau putus sekolah.

3. Jangan menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu dan tidak bsia diseragamkan perbedaan bakat dan keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain harus menjadi perhatian dan diakomodasi.

Selain itu pendidikan kita memberika kurikulum yang menyeragamkan semua jenis pemikiran dan tindakan. Padahal setiap anak memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing yang tidak bisa disamaratakan dengan lainnya. Apa yang anak miliki adalah anugrah dari Tuhan yang tidak bisa diubah oleh orang lain hanya karena tidak ingin adanya perbedaan. Hal ini adalah salah satu bentuk pengekangan terhadap anak.

4. Anak-anak tumbuh berdasarkan kekuatan kodratinya yang unik, tidak mungkin pendidik mengubah padi menjadi jagung atau sebaliknya.

Sekolah seringkali memaksakan anak untuk bisa menguasai bidang tertentu. Seorang anak yang berbakat dalam hal bermusik justru dipaksa untuk bisa mengerjakan matematika. Padahal pada dasarnya anak tersebut tidak menyukai pelajaran hitungan sama sekali. Namun, karena adanya salah kaprah dalam sistem pendidikan kita seringkali anak yang menjadi korbannya. 

Tidak jarang di sekolah tolak ukur kecerdasan anak hanya berupa pada nilai matematika saja. Jika ia tidak bisa matematika maka ia akan dianggap bodoh dan berbeda. Hal ini adalah salah satu contoh buruk yang sampai saat ini masih terjadi. Guru pun tidak memiliki kompetensi yang baik dalam mengenali bakat dan minat anak. Sehingga timbul ketimpangan antara yang pintar dan bodoh. Kesenjangan ini semakin meruncing ketika beberapa sekolah menyedikan kelas unggulan bagi anak-anak dengan nilai yang menjulang tinggi. 

5. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani bisa diartikan guru di depan memberikan contoh atau sebagai panutan, di tengah membangun kemauan atau niat, dan di belakang memberikan dorongan atau semangat.

Barangkali selama ini kita sudah sering mendengar semboyan ini. Bapak pendidikan kita sudah mengajarkan bagaimana sistem pendidikan yang baik. Namun, sayangnya sampai detik ini, pendidikan kita masih terbelakang dari negara-negara lain. Kegiatan sekolah dan ajar mengajar seringkali membuat seseorang tidak betah dan enggan untuk belajar. Hal ini disebabkan banyak factor salah satunya bobroknya sistem pendidikan yang ada. 

Maka tidak heran jika bangku sekolah kerap menjadi wadah formalitas bagi mereka yang hanya menginginkan gelar dan jabatan saja. Bukan semata-mata karena ingin menunut pengetahuan dan pengalaman. Peran sekolah sudah beralih menjadi gedung hampa yang tidak memiliki nyawa. Anak merasa jenuh dan sekolah menjelma menjadi tempat yang membosankan.