Sajak-Curup, di Kala Malam Tiba.

           Kota Curup... Bibirku tak bisa bergerak lagi. Air mata tertahan serasa ingin membanjiri pipi, namun ada rasa enggan. Tangan mulai mendingin, dan kaki gemetar.
Berulang-ulang menguatkan diri, "Jangan... Jangan menangis !" sambil mengalihkan perhatian ke arah TV yang tidak dapat kupahami lagi alurnya. Terdiam. Agak lama.
Aku pura-pura acuh dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan sang tetangga yang juga terdiam menatap kotak hitam.
Malam semakin dingin. Kupandangi jalan yang tak terlihat ujungnya. Sesak. Mata mulai berkaca-kaca.
Ah, jangan. Malu rasanya jika harus menangis. Aku kembali ke ruangan itu, barangkali ceritanya berubah. Tetangga itu sudah pergi. Seseorang yang lain duduk diam di depan TV.
"Sudah makan?" Aku hanya menganggukkan kepala.
"Ga kedinginan?" Dengan suara berat aku jawab tidak.
Beberapa pertanyaan lain dia lontarkan dan aku merasa sesak kembali.
Ah, aku tidak tahan. Aku berlari keluar. Sungguh, air mataku mulai menetes...

Curup, di kala malam tiba.

Tugu Kesehatan Curup


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel